Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang sangat dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Rajab merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah puasa sunnah yang dapat dilakukan hingga akhir puasa Rajab 2026.
Dilansir dari Dakwah Kreatif: Muharram, Maulid Nabi, Rajab dan Syaban karya Udji Asyiah, bulan Rajab salah satu dari empat bulan haram (asyhurul hurum) yang harus dihormati. bulan Rajab 2026 adalah kesempatan emas bagi umat Muslim untuk mempertebal keimanan.
Namun, banyak umat Islam yang masih bertanya tanya mengenai kapan waktu yang tepat untuk memulai dan kapan batas akhir puasa Rajab 2026. Berikut ini penjelasannya.
Puasa Rajab adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada bulan ketujuh dalam penanggalan Hijriah. Kata “Rajab” secara bahasa berasal dari kata Tarjib yang berarti mengagungkan atau memuliakan.
Masyarakat Arab zaman dahulu, bahkan sebelum datangnya Islam, sangat memuliakan bulan ini dengan melarang adanya peperangan. Dikutip dari buku Fiqh Islam wa Adillatuhu Jilid 3 karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili, puasa di bulan-bulan haram (termasuk Rajab) hukumnya adalah sunnah menurut mayoritas ulama.
Puasa ini tidak memiliki ketentuan jumlah hari yang kaku seperti puasa Ramadhan, sehingga dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing individu, baik di awal, tengah, maupun akhir bulan.
Pelaksanaan puasa di bulan Rajab didasarkan pada anjuran umum untuk menghidupkan bulan-bulan mulia dengan amal saleh. Meskipun terdapat diskusi di kalangan ulama mengenai derajat beberapa hadis spesifik tentang Rajab, kesunnahan berpuasa secara umum di bulan haram tetap diakui.
Dikutip dari website NU Online, salah satu dalil yang menjadi rujukan adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah, di mana Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah (puasa pada bulan-bulan haram).”
Bulan-bulan haram yang dimaksud dalam Islam ada empat, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Oleh karena itu, berpuasa di bulan Rajab termasuk dalam cakupan anjuran ibadah pada bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Mengetahui kalender Hijriah sangat penting untuk menentukan kapan dimulainya ibadah ini. Berdasarkan perhitungan astronomis dan penanggalan yang berlaku, bulan Rajab 1447 Hijriah jatuh pada awal tahun 2026.
Tahun 2026 masehi bertepatan dengan tahun 1447 hingga 1448 Hijriah. Berdasarkan kalender Hijriah yang disusun oleh berbagai lembaga keagamaan di Indonesia, 1 Rajab 1447 H diprediksi jatuh pada tanggal 20 Januari 2026.
Mengingat bulan Hijriah biasanya terdiri dari 29 atau 30 hari, maka batas akhir bulan Rajab atau tanggal 30 Rajab 1447 H diperkirakan jatuh pada tanggal 19 Februari 2026. Setelah tanggal tersebut, umat Muslim akan memasuki bulan Sya’ban, yang merupakan bulan “pemanasan” terakhir sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Dengan demikian, bagi masyarakat yang ingin menjalankan puasa sunnah Rajab, waktu pelaksanaannya hingga 19 Februari 2026. Namun, sangat disarankan untuk tetap merujuk pada hasil sidang isbat atau pengumuman resmi dari Kementerian Agama RI untuk kepastian tanggal satu setiap bulannya.
Keutamaan bulan Rajab sering kali dikaitkan dengan kedudukannya sebagai bulan Allah. Dikutip dari buku Risalah Amaliah di Bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan karya KH.
Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, disebutkan bahwa Rajab adalah bulan untuk menanam benih amal. Sya’ban adalah bulan untuk menyiramnya dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen hasilnya.
Beberapa poin utama keutamaan puasa di bulan ini antara lain:
Melaksanakan ibadah di bulan haram diyakini memiliki nilai pahala yang berlipat ganda. Puasa menjadi benteng diri dari kemaksiatan dan sarana penyucian jiwa sebelum memasuki bulan-bulan berikutnya yang juga penuh kemuliaan.
Terdapat riwayat yang menyebutkan adanya sebuah sungai di surga yang bernama “Rajab”. Airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Dikatakan bahwa orang-orang yang berpuasa di bulan Rajab akan diberikan kesempatan untuk meminum dari air sungai tersebut.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Agama RI, malam pertama bulan Rajab termasuk dalam daftar malam-malam yang mustajab untuk berdoa. Dengan berpuasa di siang hari, kondisi spiritual seseorang diharapkan menjadi lebih peka dan bersih, sehingga doa-doa yang dipanjatkan lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT.
Bagi yang ingin menjalankan puasa ini, niat dapat dilakukan di dalam hati sejak malam hari hingga sebelum waktu dzuhur, asalkan belum mengonsumsi makanan atau minuman apa pun. Berikut adalah lafal niat yang umum digunakan:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ رَجَبَ لِلهِ تَعَالَى
“Nawaitu sauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnati Rajaba lillahi ta’ala.”
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Rajab hari ini karena Allah Ta’ala.”
Puasa ini bisa dilakukan secara berurutan, seperti puasa tiga hari di awal bulan, atau mengikuti jadwal puasa sunnah lainnya. Contohnya seperti Senin Kamis atau Puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah).
Dengan batas akhir puasa Rajab 2026 adalah 19 Februari 2026, masih tersedia cukup waktu untuk merencanakan jadwal ibadah. Mari manfaatkan bulan mulia ini dengan sebaik-baiknya.
Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.
Definisi Puasa Rajab
Dalil Puasa Rajab
Kapan Batas Puasa Rajab 2026?
Dalil dan Penjelasan Keutamaan Bulan Rajab
1. Menghapus Dosa
2. Pintu Surga Khusus
3. Waktu Mustajab untuk Berdoa
Tata Cara dan Niat Puasa Rajab
Keutamaan bulan Rajab sering kali dikaitkan dengan kedudukannya sebagai bulan Allah. Dikutip dari buku Risalah Amaliah di Bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan karya KH.
Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, disebutkan bahwa Rajab adalah bulan untuk menanam benih amal. Sya’ban adalah bulan untuk menyiramnya dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen hasilnya.
Beberapa poin utama keutamaan puasa di bulan ini antara lain:
Melaksanakan ibadah di bulan haram diyakini memiliki nilai pahala yang berlipat ganda. Puasa menjadi benteng diri dari kemaksiatan dan sarana penyucian jiwa sebelum memasuki bulan-bulan berikutnya yang juga penuh kemuliaan.
Terdapat riwayat yang menyebutkan adanya sebuah sungai di surga yang bernama “Rajab”. Airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Dikatakan bahwa orang-orang yang berpuasa di bulan Rajab akan diberikan kesempatan untuk meminum dari air sungai tersebut.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Agama RI, malam pertama bulan Rajab termasuk dalam daftar malam-malam yang mustajab untuk berdoa. Dengan berpuasa di siang hari, kondisi spiritual seseorang diharapkan menjadi lebih peka dan bersih, sehingga doa-doa yang dipanjatkan lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT.
Bagi yang ingin menjalankan puasa ini, niat dapat dilakukan di dalam hati sejak malam hari hingga sebelum waktu dzuhur, asalkan belum mengonsumsi makanan atau minuman apa pun. Berikut adalah lafal niat yang umum digunakan:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ رَجَبَ لِلهِ تَعَالَى
“Nawaitu sauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnati Rajaba lillahi ta’ala.”
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Rajab hari ini karena Allah Ta’ala.”
Puasa ini bisa dilakukan secara berurutan, seperti puasa tiga hari di awal bulan, atau mengikuti jadwal puasa sunnah lainnya. Contohnya seperti Senin Kamis atau Puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah).
Dengan batas akhir puasa Rajab 2026 adalah 19 Februari 2026, masih tersedia cukup waktu untuk merencanakan jadwal ibadah. Mari manfaatkan bulan mulia ini dengan sebaik-baiknya.
Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.







