Mengenal Rumah Adat Nuwo Sesat di Lampung: Arsitektur dan Sejarahnya

Posted on

Provinsi Lampung yang dikenal dengan julukan ‘Sai Bumi Ruwa Jurai’ menyimpan kekayaan budaya terutama dalam bidang arsitektur tradisional. Salah satunya yakni rumah adat nuwo sesat. Bangunan ini merupakan simbol identitas, sistem demokrasi, dan keagungan martabat masyarakat Lampung.

Sebagai sebuah ikon kebudayaan, nuwo sesat memiliki daya tarik yang sangat kuat, baik dari sisi estetika maupun nilai filosofis. Struktur panggung bangunan ini menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat Lampung beradaptasi dengan lingkungan sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah.

Penasaran dengan seluk-beluk sejarah, rahasia di balik kekokohan strukturnya, hingga makna mendalam dari setiap sudut ruangannya? Berikut infoSumbagsel sajikan rangkumannya.

Secara etimologi, nama “Nuwo Sesat” berasal dari bahasa Lampung asli. Melansir dari website Wonderful Indonesia, kata nuwo berarti rumah atau tempat tinggal, sedangkan sesat berarti musyawarah atau bangunan tempat pertemuan adat.

Jika digabungkan nuwo sesat memiliki makna filosofis sebagai “Rumah Balai Agung”, sebuah tempat di mana masyarakat berkumpul untuk mencapai mufakat. Filosofi ini mencerminkan semangat keterbukaan masyarakat Lampung.

Sejarah mencatat bahwa nuwo sesat awalnya bukanlah hunian pribadi, melainkan gedung “parlemen” tradisional bagi para pemimpin adat. Bangunan ini diyakini sebagai bentuk semangat kekuatan, kenyamanan, dan keindahan yang dianut oleh masyarakat Lampung.

Mengutip dari buku Mengenal Aneka Ragam Rumah & Pakaian Adat Nusantara oleh S. Halimah, fungsi utama dari rumah tradisional ini adalah sebagai tempat pertemuan adat bagi para Purwatin (Penyimbang) pada saat mengadakan Pepung Adat atau musyawarah resmi.

Secara lebih rinci, nuwo sesat memiliki beragam peran penting, di antaranya:

Rumah panggung ini juga sangat efektif sebagai mitigasi bencana, di antaranya yakni sebagai:

Dari sisi arsitekturnya, nuwo sesat berbentuk rumah panggung bertiang. Keputusan para leluhur untuk menggunakan model panggung didasarkan pada analisis topografi dan kondisi alam Lampung yang spesifik.

Struktur panggung nuwo sesat yang memiliki ketinggian sekitar 1,5 hingga 2 meter dari permukaan tanah berfungsi sebagai mitigasi terhadap dua hal utama, yakni serangan hewan liar dari hutan dan risiko banjir kiriman yang sering melanda daerah lereng perbukitan.

Selain itu, tiang-tiang penyangga nuwo sesat ini juga memberikan sirkulasi udara yang baik sehingga rumah tetap sejuk di tengah iklim tropis yang lembap.

Keindahan nuwo sesat semakin lengkap dengan ukiran motif flora, fauna, hingga motif perahu yang melambangkan identitas masyarakat Lampung sebagai pelaut ulung.

Kekokohan nuwo sesat tidak lepas dari penggunaan material lokal berkualitas tinggi dan teknik pembangunan yang mumpuni. Berikut adalah fakta teknis mengenai karakteristik bangunannya:

Melansir dari laman info.com bagian-bagian rumah adat ini meliputi:

Meskipun rumah modern mulai mendominasi, keberadaan nuwo sesat di kampung tua seperti Kampung Wana dan Menggala tetap dipertahankan sebagai simbol kekuatan sejarah. Nuwo sesat bukan sekadar fosil masa lalu, melainkan prasasti hidup yang mengajarkan nilai gotong royong sebagai pondasi persatuan bangsa.

Demikianlah ulasan mendalam mengenai rumah adat nuwo sesat. Melalui arsitektur ini, kita belajar bagaimana menghargai alam sekaligus menjunjung tinggi demokrasi. Semoga artikel ini bermanfaat ya!

Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.

Makna Filosofis dan Etimologi Rumah Adat Nuwo Sesat

Fungsi Rumah Adat Nuwo Sesat

Arsitektur Rumah Panggung: Adaptasi Cerdas Terhadap Alam

Karakteristik Bangunan dan Detail Konstruksi

Nuwo Sesat Warisan Prasasti Hidup yang Harus Dijaga

Kekokohan nuwo sesat tidak lepas dari penggunaan material lokal berkualitas tinggi dan teknik pembangunan yang mumpuni. Berikut adalah fakta teknis mengenai karakteristik bangunannya:

Melansir dari laman info.com bagian-bagian rumah adat ini meliputi:

Meskipun rumah modern mulai mendominasi, keberadaan nuwo sesat di kampung tua seperti Kampung Wana dan Menggala tetap dipertahankan sebagai simbol kekuatan sejarah. Nuwo sesat bukan sekadar fosil masa lalu, melainkan prasasti hidup yang mengajarkan nilai gotong royong sebagai pondasi persatuan bangsa.

Demikianlah ulasan mendalam mengenai rumah adat nuwo sesat. Melalui arsitektur ini, kita belajar bagaimana menghargai alam sekaligus menjunjung tinggi demokrasi. Semoga artikel ini bermanfaat ya!

Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.

Karakteristik Bangunan dan Detail Konstruksi

Nuwo Sesat Warisan Prasasti Hidup yang Harus Dijaga