Perbedaan Pindang Meranjat, Pegagan, dan Musi Rawas, Mana Favoritmu?

Posted on

Jika bicara tentang kuliner Sumatera Selatan akan langsung tertuju pada pempek. Namun, bagi masyarakat asli Bumi Sriwijaya, pindang adalah primadona yang kaya rempah dan memiliki cita rasa yang tak terlupakan.

Bagi wisatawan atau pendatang, sering kali sulit membedakan antara Pindang Meranjat, Pindang Pegagan, dan Pindang Musi Rawas. Meskipun sekilas terlihat mirip dan sama-sama berbahan dasar ikan, ketiganya ternyata memiliki cita rasa yang kontras.

Hal ini seringkali memicu perdebatan seru di kalangan pencinta kuliner, dan memilih mana yang lebih nikmat? Agar tidak salah, infoSumbagsel menjelaskan filosofi, asal-usul, hingga pembeda ketiga jenis pindang populer ini.

Berdasarkan laman Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, Kemendikbudristek, istilah “pindang” merujuk pada metode pengolahan makanan tradisional dengan cara direbus dengan bumbu khas (seringkali asam, pedas, dan segar). Ini mencerminkan praktik kuliner lokal di Sumsel.

Secara historis, keberadaan pindang di Sumsel tidak lepas dari letak geografisnya yang dialiri sembilan sungai besar atau yang lebih dikenal Sungai Batanghari Sembilan. Dahulu, masyarakat yang tinggal di bantaran sungai mengandalkan tangkapan ikan sungai seperti Patin, Baung, dan Gabus.

Teknik memasak pindang muncul sebagai kearifan lokal untuk menghilangkan aroma amis ikan sungai. Karena itu, dipakai rempah daun dan buah-buahan asam yang tumbuh di pinggiran sungai.

Seiring berjalannya waktu, teknik ini berevolusi menjadi identitas wilayah masing-masing, seperti Meranjat di Ogan Ilir hingga Musi Rawas di bagian barat provinsi.

Masyarakat di dataran rendah Ogan Ilir cenderung menggunakan nanas dan terasi karena wilayah tersebut dekat dengan akses perdagangan pesisir.

Smentara itu, di wilayah barat seperti Musi Rawas, penggunaan rempah daun dan tomat ranti jauh lebih dominan. Hal ini dipengaruhi oleh iklim sejuk di kaki pegunungan Bukit Barisan yang subur dengan berbagai tanaman sayuran.

Pindang Meranjat berasal dari Desa Meranjat, Kecamatan Indralaya Selatan, Kabupaten Ogan Ilir. Pindang ini bisa dibilang sebagai varian yang paling “agresif” dan penuh karakter.

Jika berkunjung ke Sumsel dan mencicipi pindang dengan aroma yang sangat harum serta rasa yang menusuk lidah, besar kemungkinan itu adalah pindang meranjat.

Masyarakat Meranjat dikenal memiliki tradisi kuliner yang sangat kuat dan diwariskan secara turun-temurun dengan penuh kebanggaan.

Kekuatan tradisi ini terlihat dari bagaimana mereka melakukan eksperimen bumbu yang jauh lebih kompleks dan berani dibandingkan dengan masyarakat Pegagan.

Kunci utama dari Pindang Meranjat terletak pada proses pengolahan bumbunya yang harus ditumis. Bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, cabai merah, cabai rawit burung, jahe, dan kunyit, digoreng dengan sedikit minyak hingga mengeluarkan aroma harum yang menyengat.

Proses penumisan ini tidak hanya bertujuan untuk mematangkan bumbu, tetapi juga untuk melarutkan pigmen cabai sehingga kuahnya tampak merah pekat dan sedikit berminyak di permukaan.

Rahasia terbesar Pindang Meranjat adalah penggunaan Terasi atau Belacan. Terasi yang digunakan biasanya dibakar terlebih dahulu sebelum dihaluskan bersama bumbu lainnya.

Aroma terasi yang kuat inilah yang memberikan dimensi rasa “umami” atau gurih yang dalam. Sebagai penyeimbang rasa pedas dan gurih yang intens, masyarakat Meranjat memasukkan potongan buah nanas matang.

Nanas tidak hanya memberikan rasa asam-manis yang segar, tetapi juga membantu melembutkan serat-serat ikan sungai yang terkadang cukup keras. Di akhir masakan, segenggam daun kemangi dimasukkan untuk memberikan aroma segar yang menenangkan.

Bagi pecinta kuliner yang mendambakan kesegaran murni, Pindang Pegagan adalah pilihan utama. Berasal dari suku Pegagan di wilayah Ogan Ilir dan OKI, pindang ini memiliki filosofi kesederhanaan namun menuntut ketelitian tinggi dalam pengolahannya.

Kuah Pindang Pegagan memiliki ciri khas warna merah yang menyala namun terlihat jernih. Warna merah ini didapatkan dari cabai merah yang dihaluskan dengan sangat baik.

Tekstur kuah pindang ini lebih encer, tidak berminyak, dan memberikan kesan bersih di mata. infoers tidak akan menemukan banyak potongan bumbu yang mengapung disini, karena semua bumbu biasanya sudah menyatu sempurna dengan air rebusan.

Perbedaan paling mencolok yang sering disoroti oleh para pakar kuliner lokal adalah Pindang Pegagan sama sekali tidak menggunakan proses penumisan. Semua bumbu dimasukkan langsung ke dalam air yang sudah mendidih.

Teknik merebus langsung memastikan bahwa kuahnya tetap jernih, encer, dan bebas dari lemak tambahan (minyak goreng). Bumbu-bumbunya pun biasanya digiling halus, seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, kunyit, jahe, dan terasi.

Rasa asam pada Pindang Pegagan tidak didapat dari nanas, melainkan dari Asam Jawa atau Air Asam. Hal ini memberikan rasa asam yang lebih tajam namun bersih, tanpa ada campuran rasa manis buah.

Visual Pindang Pegagan sangat cantik dengan warna kuah merah jernih yang berasal dari rebusan cabai merah. Hidangan ini sangat cocok disantap bagi mereka yang mendambakan rasa segar, ringan, dan tidak ingin merasa mualsetelah makan.

Bergeser ke Musi Rawas, di wilayah ini infoers akan menemukan varian pindang yang sangat kontras dengan versi Pegagan. Pindang Musi Rawas adalah potret kekayaan rempah pegunungan berpadu dengan hasil sungai.

Pindang khas daerah ini memiliki identitas warna yang berbeda, yaitu kuning keemasan. Warna ini berasal dari penggunaan kunyit yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan pindang di daerah Ogan.

Selain itu, bumbu rempah daun seperti serai, daun salam, dan lengkuas digunakan secara melimpah, membuat aromanya sangat harum menyerupai jamu tradisional namun dalam versi kuliner yang sangat lezat.

Keunikan lain dari Pindang Musi Rawas adalah penggunaan tomat ranti, jenis tomat kecil dengan bentuk bergelombang yang memiliki kadar keasaman alami dan segar.

Tomat ini dimasukkan dalam jumlah banyak dan dibiarkan sedikit hancur dalam kuah, sehingga memberikan tekstur yang sedikit lebih kental dan rasa manis-asam yang unik.

Rasa pedasnya cenderung lebih kalem dibandingkan versi Meranjat, namun rasa gurih rempahnya jauh lebih tertinggal lama di lidah.

Jika membandingkan ketiga pindang secara naratif, perbedaan yang paling terasa adalah ketebalan kuah. Pindang Meranjat menduduki posisi sebagai varian dengan kuah yang paling “berat’.

Hal ini dikarenakan hasil dari proses penumisan bumbu di awal memasak yang meninggalkan lapisan minyak tipis, ditambah dengan hancuran sari buah nanas yang melebur ke dalam air rebusan.

Tekstur kuah yang sedikit kental ini mampu mengikat rasa bumbu dan lemak ikan dengan lebih erat, memberikan sensasi rasa yang tertinggal lama di tenggorokan.

Sebaliknya, Pindang Pegagan hadir sebagai varian yang paling ‘ringan’ dan jernih. Karena hanya terdiri dari rebusan air, bumbu halus, dan asam jawa tanpa melalui proses tumis, kuahnya terasa sangat encer dan bersih.

Pindang ini menawarkan sensasi yang menyegarkan tanpa meninggalkan jejak lemak yang berat di lidah, menjadikannya pilihan sempurna bagi mereka yang ingin menikmati rasa asli ikan tanpa gangguan tekstur bumbu yang pekat.

Sementara itu, Pindang Musi Rawas berada di posisi menengah. Kekentalan kuahnya tidak didapat dari minyak, melainkan dari penggunaan bumbu kunyit yang digiling sangat halus serta hancuran tomat ranti yang dimasak hingga melunak.

Teksturnya terasa sedikit kental namun tetap segar, memberikan keseimbangan sempurna antara kegurihan bumbu rempah dan kesegaran kuah rebusan.”

Dalam hal penyajian, ketiga pindang ini memiliki standar pendamping yang sama yaitu ikan. Namun memberikan pengalaman rasa yang berbeda. Pindang Meranjat sangat nikmat dipadukan dengan sambal buah, seperti mangga atau nanas.

Pindang Pegagan paling pas jika dinikmati dengan nasi hangat dan lalapan sayur pahit seperti daun pepaya. Sedangkan Pindang Musi Rawas sering kali disajikan dengan ikan yang ukurannya lebih besar karena daging ikan yang tebal sangat cocok menyerap kuah rempah kuningnya yang wangi.

Memilih antara Pindang Meranjat, Pegagan, atau Musi Rawas adalah soal selera pribadi dan suasana hati. Ketiganya adalah bukti nyata betapa kayanya budaya kuliner Sumsel yang mampu mengolah bahan dasar yang sama menjadi tiga kuliner yang berbeda karakter.

Mengetahui perbedaan bumbu dan teknik memasaknya tidak hanya menjadi lebih menghargai setiap suapan, tetapi juga membantu mempromosikan warisan budaya ini kepada khalayak yang lebih luas.

Itulah penjelasan mengenai perbedaan Pindang Pegagan, Meranjat, dan Musi Rawas. Semoga membantu, ya.

Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.

Akar Sejarah Pindang

Perbedaan Pindang Meranjat, Pegagan, dan Musi Rawas

1. Pindang Meranjat

2. Pindang Pegagan

3. Pindang Musi Rawas

Karakteristik Perbedaan Pindang yang Mencolok