Homoseksual masih menjadi salah satu penyebab tertinggi infeksi baru kasus HIV/AIDS 2025 di Sumatera Selatan. Setiap tahunnya, jumlah penderita baru dari kelompok ini mencapai 300-an orang.
“Iya, faktor risiko homoseksual masih menjadi salah satu penyumbang tertinggi infeksi baru kasus HIV/AIDS di Sumsel,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa Ogatiyah saat dikonfirmasi, Selasa (20/1/2026).
Dia mengungkapkan, kasus infeksi baru pada kelompok ini pada 2024 jumlahnya mencapai 398 orang. Sedangkan 2025, meski mengalami penurunan, jumlahnya masih di kisaran 300-an orang.
“Pada 2025, jumlah infeksi baru karena faktor homoseksual ini tercatat 344 orang,” katanya.
Selain homoseksual, faktor risiko lain yang menjadi penyumbang kasus infeksi baru HIV/AIDS di Sumsel adalah heteroseksual, biseksual, pengguna jarum/alat tidak steril, perinatal, dan transfusi darah/cangkok organ/produk darah.
“Penyebab tertinggi kasus HIV/AIDS masih karena heteroseksual yang mencapai 533 orang pada tahun lalu. Kemudian biseksual 15 orang, perinatal 11 orang, pengguna jarum/alat tidak steril 3 orang, dan transfusi darah/cangkok organ/produk darah 1 orang,” jelasnya.
Menurutnya, heteroseksual maupun homoseksual menjadi hubungan seksual berisiko penularan HIV/AIDS. Pola ini menunjukkan bahwa penularan HIV tidak hanya terjadi pada kelompok tertentu, tetapi telah meluas ke masyarakat umum.
Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap perilaku seksual aman menjadi salah satu penyebab utama masih tingginya kasus baru. Selain itu, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) juga membuat sebagian masyarakat enggan melakukan pemeriksaan dini.
“Edukasi dan sosialisasi bahaya seks bebas dan HIV/AIDS kepada masyarakat, terutama kepada para pelajar di tingkat SMA, terus kita lakukan. Kemudian juga ada layanan konseling, tes dan pengobatan HIV di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas.
“Kerja sama dengan komunitas, mendukung komunitas peduli HIV/AIDS untuk memberikan pendampingan dan edukasi kepada orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), serta mengatasi stigma dan diskriminasi juga masih kita lakukan untuk pencegahan dan penanggulangannya,” jelasnya.
Diketahui, kasus baru infeksi HIV/AIDS di Sumsel pada 2025 lalu mencapai 907 orang. Mereka yang terinfeksi HIV sebanyak 609 orang dan AIDS 298 orang.
Jumlah kasus 2025 itu mengalami penurunan dibandingkan 2024, namun lebih tinggi dibandingkan periode 2021-2023. Pada 2021, kasus baru HIV/AIDS yang didata Dinkes Sumsel sebanyak 321 kasus, 2022 sebanyak 639 kasus dan 2023 ada 846 kasus. Lalu, pada 2024 naik menjadi 992 kasus.







