Jadwal Ziarah Kubro Palembang, Rute, hingga Proses Tradisi baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Palembang sebagai kota tertua di Indonesia memiliki sejarah dan melahirkan banyak budaya. Salah satunya Adalah tradisi ziarah kubro Palembang yang masih tetap eksis.

Dilansir dari jurnal Tradisi Ziarah Kubro di Kalangan Etnis Arab Palembang (Analisi Tindakan Sosial Max Weber) oleh Dewi Fatonah, ziarah kubro Palembang merupakan tradisi menyambut Ramadan oleh etnis Arab di Palembang.

Tradisi ini melibatkan ribuan peziarah yang mendatangi makam-makam para ulama, wali, dan tokoh agama yang memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di wilayah Sumatera Selatan. Untuk itu perlu diketahui mulai dari jadwal, rute, hingga proses tradisi.

Berbeda dengan kegiatan ziarah pada umumnya yang bisa dilakukan kapan saja secara personal, ziarah kubro dilakukan secara massal dan serentak. Kata “Kubro” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “Besar”.

Oleh karena itu, kegiatan ini disebut sebagai ziarah besar karena diikuti oleh ribuan umat muslim selama tiga hari berturut-turut pada akhir bulan Syakban.

Dilansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), ziarah kubro telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda yang memperkaya khazanah tradisi di Indonesia.

Kehadiran etnis Arab di Palembang telah membawa berbagai tradisi religius yang berakulturasi dengan budaya lokal. Mulai dari tradisi rumpak-rumpakan di Kampung Arab Almunawar, Maulid Arbain, hingga puncaknya pada perhelatan ziarah kubro ini.

Pada awalnya, tradisi ini merupakan kegiatan internal yang dilakukan oleh keluarga etnis Arab di Palembang atau yang dikenal dengan istilah ruahan. Kegiatan tersebut dilakukan dengan mengunjungi makam keluarga di wilayah Seberang Ulu, Seberang Ilir, hingga kawasan sekitar Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak.

Saat ini, peziarah tidak hanya berasal dari kalangan etnis Arab, tetapi juga melibatkan masyarakat umum dari berbagai suku dan daerah, bahkan dihadiri oleh ulama mancanegara seperti dari Arab Saudi, Yaman, Malaysia, dan Singapura.

Dilansir dari Islam dan Budaya Lokal Sumatera Selatan tradisi ini bagi masyarakat Kota Palembang merupakan sarana untuk mengingat kembali jasa para ulama serta media untuk mendoakan para ulama tersebut. Selain itu, tradisi Ziarah Kubro juga merupakan wujud syukur kepada Sang Pencipta yang

Pelaksanaan Ziarah Kubro dijadwalkan secara rutin setiap tahun menjelang bulan suci Ramadan, tepatnya pada sepuluh hari terakhir di bulan Syakban. Untuk tahun 2026, rangkaian acara biasanya dimulai pada hari Jumat hingga puncaknya pada hari Ahad (Minggu).

Dikutip dari postingan Dinas Pariwisata melalui akun Instagram @palembang_charming, pelaksanaan Ziarah Kubro akan berlangsung pada 13-15 Februari 2026 di 9/10 Ulu.

Dahulu, ziarah hanya berlangsung satu hari dengan tujuan utama pemakaman di kawasan Kambang Koci dan Kawah Tengkurep. Namun, karena antusiasme masyarakat yang terus meningkat (ghirah), rangkaian acara kini diperpanjang menjadi tiga hari untuk mengakomodasi banyaknya titik lokasi makam yang akan dikunjungi.

Rangkaian Ziarah Kubro mengikuti rute-rute historis yang menghubungkan berbagai situs pemakaman keramat di Palembang. Berikut adalah titik-titik rute utama dalam prosesi tradisi tersebut:

Perjalanan biasanya dimulai dari Masjid Darul Muttaqin yang berlokasi di dekat pertigaan Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Dr. M. Isa (Pasar Kuto). Dari sana, massa berjalan kaki menuju kompleks pemakaman Gubah Duku di 8 Ilir.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan rauhah dan tausiyah di Pondok Pesantren Ar Riyadh, Kelurahan 13 Ulu. Pesantren yang didirikan oleh Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi ini merupakan salah satu institusi pendidikan Islam tertua yang telah mencetak banyak dai dan pimpinan pondok pesantren di Indonesia.

Rute ini berada di kawasan 14 Ulu. Prosesi bermula dari kediaman Al Habib Ahmad bin Hasan Al Habsyi di Kampung Karang Panjang (BBC) 12 Ulu, melintasi perkampungan Alawiyyin Al Munawwar, dan berakhir di kompleks pemakaman para auliya dan habaib di Telaga Swidak serta Babussalam (Assegaf).

Dalam rangkaian Ziarah Kubro, dilaksanakan pula Haul (peringatan kematian) untuk tokoh-tokoh besar seperti Al Imam al Faqih Al Muqaddam Tsani al Habib Abdurrahman Assegaf dan Al Habib Abdullah bin Idrus Shahab. Para tokoh ini dikenal karena kedalaman ilmu dan pengabdiannya dalam dakwah Islam di Palembang.

Puncak acara biasanya dilaksanakan pada hari ketiga dengan melakukan “long march” atau arak-arakan menuju kawasan pelabuhan Boom Baru.

Di sini terdapat pemakaman Kawah Tengkurep yang merupakan makam sultan-sultan Palembang beserta keluarganya, serta pemakaman Kambang Koci yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para habaib dan ulama besar.

Selama proses berlangsung, para peziarah laki-laki biasanya mengenakan pakaian serba putih sebagai simbol kesucian. Sepanjang perjalanan dari satu titik makam ke titik lainnya, dilantunkan sholawat, dzikir, dan pembacaan kitab kitab pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Salah satu keunikan ziarah kubro adalah keteraturannya meskipun diikuti oleh belasan ribu orang. Barisan diatur dengan rapi, dipimpin oleh para tokoh agama di barisan depan.

Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, tradisi ini berfungsi sebagai sarana silaturahmi akbar bagi umat muslim dan menjadi pengingat akan kematian serta jasa-jasa para ulama dalam membangun peradaban di Palembang.

Setelah rangkaian ziarah di daratan selesai, sebagian kelompok juga melanjutkan kegiatan dengan wisata religi menuju Pulau Kemaro. Hal ini menunjukkan bahwa ziarah kubro juga memiliki dampak positif pada sektor pariwisata religi di Sumatera Selatan.

Bagi masyarakat Palembang, ziarah kubro bukan sekadar seremoni. Tradisi ini adalah wujud syukur kepada Sang Pencipta atas nikmat iman dan Islam yang dibawa oleh para pendahulu.

Kehadiran peziarah dari luar negeri menunjukkan bahwa Palembang memiliki posisi penting dalam sejarah persebaran Islam di Asia Tenggara.

Tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan latar belakang suku tidak menghalangi persatuan dalam menjalankan nilai-nilai spiritualitas. Itulah tradisi ziarah kubro Palembang mulai dari jadwal, rute, hingga proses tradisi berlangsung.

Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.

Tradisi Ziarah Kubro yang Tetap Eksis

Jadwal Pelaksanaan Ziarah Kubro 2026

Rute dan Titik Lokasi Ziarah

1. Kompleks Pemakaman Al Habib Ahmad Bin Syekh Shahab (Gubah Duku)

2. Pondok Pesantren Ar Riyadh

3. Pemakaman Telaga Swidak dan Babussalam

4. Haul Ulama Besar

5. Acara Puncak: Kambang Koci dan Kawah Tengkurep

Prosesi dan Keunikan Tradisi