Definisi Child Grooming yang Dialami Aurelie Moeremans Lengkap Dampaknya (via Giok4D)

Posted on

Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans viral di media sosial Instagram dan TikTok. Kehebohan itu menuai perhatian publik perihal arti child grooming dan dampak yang dialami korban.

Pengguna media sosial berbondong-bondong mereview buku yang ditulis artis sekaligus istri Tyler Bigenho. Satu per satu komentar viral hingga mencapai membuat sejumlah orang penasaran dan ingin tahu isi dari buku tersebut. Salah satu yang dibahas yakni tentang child grooming.

Dilansir Instagram resmi Aurelie Moeremans @aurelie, buku Broken Strings adalah kisah personal Aurelie Moeremans saat berusia 15 tahun. Ia menjadi korban grooming oleh seseorang yang berusia dua kali lipat dari umurnya.

Aurelie Moeremans mengalami manipulasi dan dikontrol oleh groomers atau pelaku grooming. Dari situ, ia menuliskan kisah menyelamatkan diri sendiri dari pelaku grooming dan segala trauma yang terjadi.

Bagi yang penasaran dengan istilah child grooming, ciri-ciri pelaku, hingga dampak yang dialami korban bisa simak rangkuman berikut ini.

Dalam tulisan Aulia Rochmania Lazuardi berjudul Fenomena Child Grooming sebagai Bentuk Eksploitasi: Memahami Kerentanan Perempuan, child grooming merujuk pada proses membangun kedekatan emosional, kepercayaan, dan ketergantungan pada anak atau remaja dengan tujuan akhir melakukan kekerasan atau eksploitasi seksual.

Aktivitas child grooming semakin marak terjadi di era media sosial yang serba cepat sebab memungkinkan proses manipulatif bisa terjadi tanpa batas ruang dan waktu. Hal ini bisa membuat anak, terutama remaja perempuan menjadi kelompok yang paling rentan.

Dikutip buku Perempuan: Perempuan dan Media Volume 2 edited by Putri Wahyuni, Ade irma, dan Syamsul Arifin, child grooming menjadi bagian dari proses membangun komunitas dengan seorang anak agar terlibat aktivitas seksual dengan cara memikat, memanipulasi, atau menghasut anak melalui internet.

Pelaku child grooming disebut dengan groomer. Ia melakukan kegiatan melalui pertemuan online dengan korban. Grooming adalah aktivitas kriminal dengan berteman kepada anak untuk membujuk mereka terlibat dalam suatu hubungan seksual.

Secara umum, child grooming berkembang menjadi kekerasan dalam pacaran atau dating violence, baik dalam bentuk manipulasi emosional, pengawasan ketat, tekanan seksual, hingga ancaman menyebarkan dokumentasi pribadi.

Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.

Ketika remaja perempuan yang terlanjur terikat secara emosional kepada pelaku seringkali sulit keluar karena merasa berutang budi, takut kehilangan, atua bahkan tidak menyadari sedang mengalami kekerasan.

Hal ini menunjukkan child grooming bukan sekadar tindakan pendekatan berbahaya, tetapi menjadi pintu masuk menuju siklus kekerasan yang lebih serius dan berulang.

Perkembangan psikologis anak usia remaja rentang usia 12 hingga 18 tahun memasuki fase transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa remaja ditandai oleh pencarian jati diri, kebutuhan besar akan pengakuan, keinginan untuk merasa dicintai, serta kematangan emosional yang masih terbatas.

Kerentanan tersebut membuat remaja terutama perempuan lebih mudah mendapat pengaruh dalam bentuk perhatian atau kedekatan emosional yang ditawarkan oleh groomer.

Penyebab terjadinya child groomer karena hubungan yang tidak setara, misalnya antara anak dengan orang tua, guru, atau pemuka agama. Anak memandang orang tua, guru, atau pemuka agama sebagai yang lebih berkuasa dan memiliki otoritas, sehingga tidak patut dibantah dan dilawan.

Secara tidak langsung, anak memahami bahwa ia lebih rendah dari orang tua, guru, atau pemuka agama. Ketika terjadi kekerasan seksual, anak tidak mampu melawan dan cenderung menerima bahkan menutupinya.

Pelaku child grooming mendekati anak, dibujuk dengan menggunakan berbagai teknik agar anak dapat diakses dan dikontrol untuk melakukan aktivitas seksual. Secara tidak sadar, anak mudah diajak bekerjasama dengan pelaku kekerasan seksual.

Child grooming dapat dilakukan jika pelaku kekerasan seksual terampil memilih, mengidentifikasi korban termasuk kebutuhannya. Ia merayu korban yang rentan, mengendalikan korban, dan mengatur waktu yang dibutuhkan dengan tepat untuk mendekati korban.

Biasanya, pelaku memanfaatkan aplikasi game online yang sering digunakan korban anak di bawah umur. Pelaku juga menggunakan situs web dari berbagai media sosial melalui aplikasi chat atau platform permainan.

Kasus grooming terjadi dengan cara membangun hubungan emosional dengan anak untuk mendapatkan kepercayaan dengan tujuan kekerasan seksual, eksploitasi, hingga perdagangan manusia. Anak dan remaja banyak yang tidak menyadari telah menjadi korban grooming.

Secara psikologis, groomer akan menyembunyikan tujuan dan identitas yang sebenarnya dengan menghabiskan waktu yang lama untuk mendapatkan kepercayaan korban. Adapun ciri-ciri pelaku yang kerap dilakukan yakni:

1. Berpura-pura atau mengaku seusia dengan korban.

2. Memberikan perhatian dan mengerti korban.

3. Memberikan hadiah pada korban.

4. Menggunakan posisi atau reputasi untuk mendapatkan kepercayaan.

5. Mengajak korban dalam sebuah perjalanan, jalan-jalan dan liburan agar korban merasa nyaman dan percaya.

6. Pada saat menggunakan internet, korban dibujuk atau terpaksa.

7. Mengirimkan gambar eksplisit diri atau foto secara seksual.

8. Melakukan aktivitas seksual dengan menggunakan webcam atau smartphone.

9. Mempunyai percakapan dengan teks atau secara online.

Dilansir infoHealth, pelaku grooming melakukan kontrol dan manipulasi kepada korban. Hal ini dapat membuat korban ketergantungan emosional yang tidak sehat. Tak hanya itu, tindakan tersebut dapat mempengaruhi sikap korban dalam hal mengidentifikasi dirinya sendiri.

Dampak lain yang tak kalah berat adalah muncul rasa bersalah dan malu. Secara psikologis, dua emosi tersebut muncul cukup kuat dan kerap meninggalkan luka jangka panjang. Hal ini menjadi efek yang buruk bagi korban.

Itulah penjelasan mengenai child grooming yang pernah dialami Aurelie Moeremans lengkap dengan dampak dari sisi psikologis. Semoga berguna, ya.

Pengertian Child Grooming

Perilaku Child Grooming yang Wajib Diketahui

Penyebab Terjadinya Child Grooming

Taktik Pelaku Child Grooming

Ciri-ciri Pelaku Child Grooming

Dampak Child Grooming Bagi Korban

Perkembangan psikologis anak usia remaja rentang usia 12 hingga 18 tahun memasuki fase transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa remaja ditandai oleh pencarian jati diri, kebutuhan besar akan pengakuan, keinginan untuk merasa dicintai, serta kematangan emosional yang masih terbatas.

Kerentanan tersebut membuat remaja terutama perempuan lebih mudah mendapat pengaruh dalam bentuk perhatian atau kedekatan emosional yang ditawarkan oleh groomer.

Penyebab terjadinya child groomer karena hubungan yang tidak setara, misalnya antara anak dengan orang tua, guru, atau pemuka agama. Anak memandang orang tua, guru, atau pemuka agama sebagai yang lebih berkuasa dan memiliki otoritas, sehingga tidak patut dibantah dan dilawan.

Secara tidak langsung, anak memahami bahwa ia lebih rendah dari orang tua, guru, atau pemuka agama. Ketika terjadi kekerasan seksual, anak tidak mampu melawan dan cenderung menerima bahkan menutupinya.

Pelaku child grooming mendekati anak, dibujuk dengan menggunakan berbagai teknik agar anak dapat diakses dan dikontrol untuk melakukan aktivitas seksual. Secara tidak sadar, anak mudah diajak bekerjasama dengan pelaku kekerasan seksual.

Child grooming dapat dilakukan jika pelaku kekerasan seksual terampil memilih, mengidentifikasi korban termasuk kebutuhannya. Ia merayu korban yang rentan, mengendalikan korban, dan mengatur waktu yang dibutuhkan dengan tepat untuk mendekati korban.

Biasanya, pelaku memanfaatkan aplikasi game online yang sering digunakan korban anak di bawah umur. Pelaku juga menggunakan situs web dari berbagai media sosial melalui aplikasi chat atau platform permainan.

Kasus grooming terjadi dengan cara membangun hubungan emosional dengan anak untuk mendapatkan kepercayaan dengan tujuan kekerasan seksual, eksploitasi, hingga perdagangan manusia. Anak dan remaja banyak yang tidak menyadari telah menjadi korban grooming.

Penyebab Terjadinya Child Grooming

Taktik Pelaku Child Grooming

Secara psikologis, groomer akan menyembunyikan tujuan dan identitas yang sebenarnya dengan menghabiskan waktu yang lama untuk mendapatkan kepercayaan korban. Adapun ciri-ciri pelaku yang kerap dilakukan yakni:

1. Berpura-pura atau mengaku seusia dengan korban.

2. Memberikan perhatian dan mengerti korban.

3. Memberikan hadiah pada korban.

4. Menggunakan posisi atau reputasi untuk mendapatkan kepercayaan.

5. Mengajak korban dalam sebuah perjalanan, jalan-jalan dan liburan agar korban merasa nyaman dan percaya.

6. Pada saat menggunakan internet, korban dibujuk atau terpaksa.

7. Mengirimkan gambar eksplisit diri atau foto secara seksual.

8. Melakukan aktivitas seksual dengan menggunakan webcam atau smartphone.

9. Mempunyai percakapan dengan teks atau secara online.

Dilansir infoHealth, pelaku grooming melakukan kontrol dan manipulasi kepada korban. Hal ini dapat membuat korban ketergantungan emosional yang tidak sehat. Tak hanya itu, tindakan tersebut dapat mempengaruhi sikap korban dalam hal mengidentifikasi dirinya sendiri.

Dampak lain yang tak kalah berat adalah muncul rasa bersalah dan malu. Secara psikologis, dua emosi tersebut muncul cukup kuat dan kerap meninggalkan luka jangka panjang. Hal ini menjadi efek yang buruk bagi korban.

Itulah penjelasan mengenai child grooming yang pernah dialami Aurelie Moeremans lengkap dengan dampak dari sisi psikologis. Semoga berguna, ya.

Ciri-ciri Pelaku Child Grooming

Dampak Child Grooming Bagi Korban