Momen libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, turut diwaspadai Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, menjadi salah satu penyebab penularan Super Flu (Subclade K). Upaya pencegahan juga telah dilakukan, apalagi Kementerian Kesehatan per akhir Desember 2025, telah mendeteksi kasus di beberapa provinsi.
“Iya, kita kerja sama dengan Balai Kekarantina Kesehatan (BKK) Kelas 1 Palembang dalam upaya cegah tangkal di pintu masuk kota via darat, laut dan udara,” ujar Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Sumsel Darsono, Sabtu (3/1/2026).
Selain itu, Dinkes Sumsel juga melakukan berbagai upaya lain. Pihaknya mendorong puskesmas, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan lain untuk melaporkan setiap kasus ISPA dan pneumonia yang terjadi secara cepat dan tepat waktu.
“Kemudian mengaktifkan sistem surveilans sehingga bisa membaca tren penyakit pernapasan dengan akurat dan meningkatkan verifikasi dan analisis data kasus untuk mengevaluasi potensi peningkatan kasus influenza,” katanya.
Kewaspadaan dini terhadap penyakit ini juga melalui sistem surveilans terintegrasi, deteksi lebih awal jika terjadi lonjakan kasus, pelaporan cepat (di bawah 24 jam) kepada pusat pengendalian bila ditemukan indikasi kejadian luar biasa, dan koordinasi lintas sektor.
“Kita juga mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi gizi seimbang, istirahat cukup, dan kebiasaan sehat, terutama menjelang musim hujan saat risiko ISPA cenderung meningkat,” jelasnya.
“Sosialisasi PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) untuk mencegah penularan penyakit saluran pernapasan dan menjaga kebersihan lingkungan. Ini penting dalam menekan risiko penularan virus influenza,” tambahnya.
Pihaknya juga telah meminta puskesmas dan rumah sakit untuk meningkatkan kesiapsiagaan klinis. Dinkes kabupaten/kota juga diminta segera merespons cepat apabila terjadi peningkatan kasus.
“Walaupun informasi detail tentang fasilitas laboratorium khusus influenza di Sumsel belum tersedia secara publik, strategi umum yang dilakukan dengan peningkatan kemampuan deteksi di fasilitas kesehatan sehingga kasus influenza dan penyakit pernapasan berat dapat teridentifikasi lebih cepat. Dan Kesiapsiagaan faskes termasuk kemungkinan perawatan pasien ISPA berat dan koordinasi rujukan,” tukasnya.







