Ekspor Sumsel Turun 3,8%, Pemicunya Sektor Migas Melemah

Posted on

Kinerja perdagangan luar negeri Sumatera Selatan hingga November 2025 mengalami tekanan. Nilai ekspor tercatat turun 3,80 persen, sementara impor anjlok hingga 51,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, sepanjang Januari-November 2025, nilai ekspor Sumsel mencapai US$5,82 juta, turun dari US$6,05 juta pada periode yang sama 2024. Penurunan terutama dipicu melemahnya ekspor migas yang turun 16,24 persen, serta ekspor nonmigas yang terkoreksi 2,87 persen.

Secara sederhana, penurunan ekspor ini paling banyak berasal dari sektor pertambangan, terutama batu bara dan komoditas sejenis. Nilai ekspor pertambangan turun 15,25 persen, dari US$2,60 juta menjadi US$2,20 juta.

Meski demikian, tidak semua sektor melemah. Industri pengolahan justru tumbuh 7,15 persen menjadi US$3,15 juta, sedangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan melonjak 30,65 persen, meski nilainya masih relatif kecil.

Kepala BPS Provinsi Sumatera Selatan, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa pelemahan ekspor terjadi secara tahunan.

“Penurunan nilai ekspor Sumatera Selatan terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor nonmigas, khususnya dari sektor pertambangan,” ujarnya.

Pada November 2025, ekspor Sumsel tercatat US$486,74 juta, turun 24,29 persen dibandingkan November 2024. Penurunan terjadi baik pada ekspor nonmigas yang turun 24,77 persen, maupun ekspor migas yang turun 17,44 persen.

Dari sisi tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor Sumsel dengan pangsa hampir 40 persen. Nilai ekspor ke negara tersebut mencapai US$2,30 juta, terutama pulp dari kayu, batu bara, dan karet. Selain Tiongkok, tujuan utama lainnya yakni ASEAN, India, Uni Eropa, dan Vietnam.

Sementara itu, impor Sumsel mengalami penurunan jauh lebih dalam. Selama Januari-November 2025, nilai impor hanya US$963,15 juta, merosot 51,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan impor paling besar terjadi pada barang modal dan bahan baku, yang menunjukkan aktivitas investasi dan produksi belum sepenuhnya pulih. Pada November 2025, nilai impor Sumsel tercatat US$119,73 juta, turun 32,29 persen dibandingkan November 2024.

“Impor Sumatera Selatan turun cukup dalam, terutama pada barang modal dan bahan baku, yang biasanya berkaitan dengan aktivitas produksi dan investasi,” kata Wahyu.

Meski demikian, BPS mencatat beberapa jenis impor seperti pupuk serta kayu dan barang dari kayu justru mengalami kenaikan, meski belum mampu menahan penurunan impor secara keseluruhan.

Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.