Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat inflasi Sumatera Selatan tetap berada pada level yang relatif terkendali di tengah berbagai dinamika harga pangan dan komoditas sepanjang akhir tahun.
Berdasarkan data BPS Provinsi Sumatera Selatan, inflasi secara bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,49 persen pada Desember 2025, dipicu terutama oleh kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas utama penyumbang inflasi antara lain bawang merah, daging ayam ras, dan cabai merah.
Inflasi Desember 2025 tersebut sekaligus menempatkan inflasi tahun ke tahun (year-on-year/y-on-y) dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) Provinsi Sumatera Selatan masing-masing sebesar 2,91 persen. Capaian ini menunjukkan inflasi Sumsel masih berada pada level yang terkendali meskipun terdapat tekanan harga menjelang akhir tahun.
Kepala BPS Provinsi Sumatera Selatan, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,32 persen.
“Kenaikan harga pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh komoditas bawang merah, daging ayam ras, dan cabai merah yang mengalami peningkatan permintaan serta gangguan pasokan,” ujarnya.
Selain faktor pangan, BPS juga mencatat bahwa secara tahunan, kelompok perawatan pribadi dan jasa Lainnya menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 1,39 persen, yang didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan.
“Emas perhiasan masih menjadi komoditas dominan yang mendorong inflasi tahunan, sejalan dengan ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global sepanjang 2025,” kata Wahyu.
Dari sisi wilayah, inflasi secara tahunan tertinggi di Sumatera Selatan terjadi di Kota Palembang sebesar 2,92 persen, sementara inflasi terendah tercatat di Kota Lubuklinggau sebesar 2,87 persen. Adapun Kabupaten Muara Enim mencatat inflasi m-to-m tertinggi sebesar 0,85 persen, sedangkan Kota Lubuk Linggau terendah sebesar 0,37 persen.
BPS juga mengidentifikasi sejumlah komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar di empat kabupaten/kota IHK, yakni emas perhiasan, bawang merah, daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah. Sementara itu, komoditas yang menahan laju inflasi atau menyumbang deflasi antara lain tomat, kol putih/kubis, semangka, tarif jalan tol, dan kentang.
Secara umum, perkembangan inflasi Desember 2025 turut dipengaruhi oleh berbagai peristiwa sepanjang tahun, seperti penyesuaian harga BBM nonsubsidi, fluktuasi harga emas dunia, kondisi hortikultura akibat curah hujan tinggi, serta kebijakan diskon tarif transportasi pada periode libur akhir tahun. Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai upaya stabilisasi harga melalui operasi pasar dan gerakan pangan murah.
Dengan capaian tersebut, BPS menilai inflasi Sumatera Selatan sepanjang 2025 masih relatif terkendali, meskipun tekanan harga dari sisi pangan dan komoditas global perlu terus diantisipasi pada awal tahun 2026.







