Palembang merupakan daerah yang memiliki kebudayaan yang beragam sebab dipengaruhi oleh banyak Kebudayaan seperti dari Melayu dan Kerajaan Sriwijaya.
Lagu daerah Palembang bukan sekadar nada dan irama tapi merupakan cerminan identitas, sejarah, dan nilai moral masyarakat Wong Kito Galo.
Dalam artikel ini, infoSumbagsel akan membedah daftar lagu daerah Palembang terlengkap, mulai dari lirik hingga makna filosofis di baliknya.
Lagu Dek Sangke adalah salah satu lagu daerah Palembang yang paling populer di tingkat nasional. Iramanya yang riang sering kali menipu pendengar yang tidak memahami liriknya, karena sebenarnya lagu ini berisi tentang sindiran.
Dek Sangke dalam bahasa Palembang berarti Tidak Disangka. Lagu ini merupakan sindiran halus terhadap seseorang yang sering berbohong atau berperilaku tidak sesuai dengan kenyataan. Pesan moralnya adalah agar kita selalu bersikap jujur dan tidak menyombongkan diri dengan kebohongan.
Lirik:
Dek sangke aku dek sangke Cempedak berbuah nangka Dek sangke aku dek sangke Cempedak berbuah nangka
Dek sangke aku dek sangke Awak buruk anak raja Dek sangke aku dek sangke Awak buruk anak raja
Dek sangke aku dek sangke Cempedak berbuah nangka Dek sangke aku dek sangke Cempedak berbuah nangka
Berbeda dengan Dek Sangke yang riang, Gending Sriwijaya memiliki nada yang agung dan khidmat. Lagu ini biasanya mengiringi tarian selamat datang bagi tamu kehormatan.
Lagu ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang pernah menjadi pusat peradaban dan perdagangan di Asia Tenggara. Maknanya mencakup rasa bangga akan sejarah, persatuan, dan keramah-tamahan masyarakat Palembang dalam menyambut tamu.
Lirik:
Kala itulah kala sang purba Amatlah megah mulia kencana Setunggal puji di muka raja Sembah bakti kito pusako kito
Kejayaan Sriwijaya di masa lampau Termasyhur di seluruh penjuru dunia Bumi Sriwijaya tanah nan kaya Tempat bernaung kito galo
Gending Sriwijaya penjemput tamu Agung luhur budi pekerti kito Sambutlah dengan senyum nan manis Selamat datang di Bumi Sriwijaya.
Lagu ini unik karena mengangkat ikon kuliner Palembang menjadi sebuah karya seni musik. Pempek Lenjer adalah jenis pempek berbentuk panjang yang sangat digemari.
Makna lagu ini sederhana namun mendalam, merayakan kebahagiaan melalui hal-hal kecil seperti makanan. Lagu ini juga mempromosikan kedekatan sosial masyarakat Palembang yang gemar berkumpul dan makan bersama di tepian Sungai Musi.
Lirik:
Paling lemak makan pempek lenjer Makan di pinggir sungai Musi Jangan lupo cukonyo yang pedas Bikin kito nambah lagi
Bulat panjang bentuk pempek lenjer Iwak belido bahan utamonyo Digoreng panas dimakan anget Lemak nian rasonyo
Oi pempek lenjer… oi pempek lenjer… Makanan khas kito Palembang Siapo bae yang merasokan Pasti bakal ketagihan
Lagu ini mencerminkan perasaan seseorang yang sedang berada di titik jenuh atau kesepian. Ia bertanya-tanya “kapan” nasib buruknya akan berubah, “kapan” ia akan mendapatkan pasangan, atau “kapan” ia bisa sukses.
Lagu ini mengajarkan tentang kesabaran dalam menghadapi ujian hidup dan harapan yang tidak pernah mati meski keadaan sedang sulit.
Lirik:
Kebile-bile mangke kaba datang Kebile-bile nunggu nasep badan Kebile-bile mangke kaba datang Kebile-bile nunggu nasep badan
Kite lari ke dusun seberang Membawa duku di dalam raga Hati rindu kepada siapa Hanya rindu kepada dinda
Kebile-bile mangke kaba datang Kebile-bile nunggu nasep badan
Lagu ini menggambarkan dinamika pergaulan muda-mudi di Palembang. Kata “Cuk Mak Ilang” sebenarnya adalah bagian dari sampiran pantun yang bersifat jenaka. Isinya seringkali menceritakan tentang seseorang yang kehilangan jejak kekasihnya atau sedang mencari perhatian dari orang yang disukai.
Lagu ini menunjukkan karakter masyarakat Palembang yang humoris, lincah, dan pandai bergaul melalui sastra lisan.
Lirik:
Cuk mak ilang mak kikir mak ilang Kancil lari kejepit di lobang Cuk mak ilang mak kikir mak ilang Kancil lari kejepit di lobang
Ujung-ujungnyo dapatlah kawan Kawan lari di tengah padang Ujung-ujungnyo dapatlah kawan Kawan lari di tengah padang
Mano nian si jantong hati Sudah lamo kito dak betemu Mano nian si jantong hati Sudah lamo kito dak betemu
Lagu ini menggambarkan perasaan rindu dan rasa sayang terhadap seseorang yang berada jauh di perantauan. Mengingat sejarah masyarakat Palembang yang juga gemar merantau, lagu ini memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan banyak orang.
Lirik:
Sayange sayange… Badan yang jauh jadi kenangan Sayange sayange… Hati yang rindu jadi pikiran
Kalau ado sumur di ladang Boleh kito menumpang mandi Kalau ado umur yang panjang Boleh kito betemu lagi
Sayange sayange… Badan yang jauh jadi kenangan
Ribu-ribu merupakan lagu tentang rasa cinta dan rindu yang universal, seringkali dikaitkan dengan kasih sayang kepada orang tua atau tanah kelahiran.
Ribu-ribu jalan ke liwa Hendak membeli buah duku Hati rindu kepada siapa Hanya rindu kepada ibu
Ibu… oh ibu… Tempat kami mengadu nasib Ibu… oh ibu… Doamu slalu kami harapkan
Ribu-ribu jalan ke liwa Hendak membeli buah duku
“Dirut” adalah panggilan atau sapaan dalam lagu tersebut. Isinya adalah peringatan bagi kaum muda agar tidak membuang-buang waktu dengan melamun atau bermalas-malasan.
Lirik:
Dirut… dirut… jangan kau melamun Pikirkan nasib di hari depan Dirut… dirut… jangan kau melamun Pikirkan nasib di hari depan
Bekerjolah mumpung masih mudo Jangan menyesal di hari tuo Bekerjolah mumpung masih mudo Jangan menyesal di hari tuo
Dirut… dirut…
Bunga melati dalam lagu ini digunakan sebagai metafora atau perumpamaan bagi gadis Palembang. Melati yang dirangkai melambangkan kecantikan yang terjaga, kesucian, dan kehormatan.
Lagu ini menunjukan tinggi nilai kesopanan dan kehormatan wanita. Lagu ini memuji bahwa kecantikan sejati seorang wanita bukan hanya dari wajah, melainkan dari budi pekerti yang luhur dan perilaku yang terjaga.
Lirik:
Melati karangan, lambang kesucian Harum baunyo di taman sari Melati karangan, lambang kesucian Harum baunyo di taman sari
Aduhai gadis idaman hati Budi pekertimu yang sangat luhur Aduhai gadis idaman hati Budi pekertimu yang sangat luhur
Melati… oh melati…
Ya Saman adalah sebuah ungkapan atau seruan kekaguman. Lagu ini menggambarkan kekaguman terhadap sosok gadis Palembang yang mengenakan pakaian adat seperti kain songket dan pesona Kota Palembang secara umum.
Lirik:
Ya saman… ya saman… Elok rupo nian… Ya saman… ya saman… Cantik nian gadis Palembang
Pakai kebaya kain songket Berjalan lenggang di pinggir Musi Siapo bae yang memandang Pasti bakal jantuh hati
Ya saman… ya saman… Elok rupo nian… Ya saman… ya saman… Cantik nian gadis Palembang
Mempelajari lagu daerah Palembang lengkap dengan lirik dan maknanya adalah perjalanan melintasi waktu menuju kejayaan masa lalu dan kearifan lokal yang abadi. Dari sindiran jujur dalam Dek Sangke hingga kemegahan Gending Sriwijaya, setiap nada mengajak kita untuk lebih mencintai budaya Indonesia.
Mari kita terus lestarikan warisan ini dengan cara menyanyikannya, membagikannya di media sosial, atau sekadar memahaminya sebagai bagian dari identitas bangsa.
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.
Lagu Daerah Palembang Lengkap Lirik dan Makna
1. Dek Sangke
2. Gending Sriwijaya
3. Pempek Lenjer
4. Kebile-Bile
5. Cuk Mak Ilang
6. Sayange
7. Ribu-Ribu
8. Dirut
9. Melati Karangan
10. Ya Saman
Lagu ini mencerminkan perasaan seseorang yang sedang berada di titik jenuh atau kesepian. Ia bertanya-tanya “kapan” nasib buruknya akan berubah, “kapan” ia akan mendapatkan pasangan, atau “kapan” ia bisa sukses.
Lagu ini mengajarkan tentang kesabaran dalam menghadapi ujian hidup dan harapan yang tidak pernah mati meski keadaan sedang sulit.
Lirik:
Kebile-bile mangke kaba datang Kebile-bile nunggu nasep badan Kebile-bile mangke kaba datang Kebile-bile nunggu nasep badan
Kite lari ke dusun seberang Membawa duku di dalam raga Hati rindu kepada siapa Hanya rindu kepada dinda
Kebile-bile mangke kaba datang Kebile-bile nunggu nasep badan
Lagu ini menggambarkan dinamika pergaulan muda-mudi di Palembang. Kata “Cuk Mak Ilang” sebenarnya adalah bagian dari sampiran pantun yang bersifat jenaka. Isinya seringkali menceritakan tentang seseorang yang kehilangan jejak kekasihnya atau sedang mencari perhatian dari orang yang disukai.
Lagu ini menunjukkan karakter masyarakat Palembang yang humoris, lincah, dan pandai bergaul melalui sastra lisan.
Lirik:
Cuk mak ilang mak kikir mak ilang Kancil lari kejepit di lobang Cuk mak ilang mak kikir mak ilang Kancil lari kejepit di lobang
Ujung-ujungnyo dapatlah kawan Kawan lari di tengah padang Ujung-ujungnyo dapatlah kawan Kawan lari di tengah padang
Mano nian si jantong hati Sudah lamo kito dak betemu Mano nian si jantong hati Sudah lamo kito dak betemu
Lagu ini menggambarkan perasaan rindu dan rasa sayang terhadap seseorang yang berada jauh di perantauan. Mengingat sejarah masyarakat Palembang yang juga gemar merantau, lagu ini memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan banyak orang.
Lirik:
Sayange sayange… Badan yang jauh jadi kenangan Sayange sayange… Hati yang rindu jadi pikiran
Kalau ado sumur di ladang Boleh kito menumpang mandi Kalau ado umur yang panjang Boleh kito betemu lagi
Sayange sayange… Badan yang jauh jadi kenangan
Ribu-ribu merupakan lagu tentang rasa cinta dan rindu yang universal, seringkali dikaitkan dengan kasih sayang kepada orang tua atau tanah kelahiran.
Ribu-ribu jalan ke liwa Hendak membeli buah duku Hati rindu kepada siapa Hanya rindu kepada ibu
Ibu… oh ibu… Tempat kami mengadu nasib Ibu… oh ibu… Doamu slalu kami harapkan
Ribu-ribu jalan ke liwa Hendak membeli buah duku
“Dirut” adalah panggilan atau sapaan dalam lagu tersebut. Isinya adalah peringatan bagi kaum muda agar tidak membuang-buang waktu dengan melamun atau bermalas-malasan.
Lirik:
Dirut… dirut… jangan kau melamun Pikirkan nasib di hari depan Dirut… dirut… jangan kau melamun Pikirkan nasib di hari depan
Bekerjolah mumpung masih mudo Jangan menyesal di hari tuo Bekerjolah mumpung masih mudo Jangan menyesal di hari tuo
Dirut… dirut…
Bunga melati dalam lagu ini digunakan sebagai metafora atau perumpamaan bagi gadis Palembang. Melati yang dirangkai melambangkan kecantikan yang terjaga, kesucian, dan kehormatan.
Lagu ini menunjukan tinggi nilai kesopanan dan kehormatan wanita. Lagu ini memuji bahwa kecantikan sejati seorang wanita bukan hanya dari wajah, melainkan dari budi pekerti yang luhur dan perilaku yang terjaga.
Lirik:
Melati karangan, lambang kesucian Harum baunyo di taman sari Melati karangan, lambang kesucian Harum baunyo di taman sari
Aduhai gadis idaman hati Budi pekertimu yang sangat luhur Aduhai gadis idaman hati Budi pekertimu yang sangat luhur
Melati… oh melati…
Ya Saman adalah sebuah ungkapan atau seruan kekaguman. Lagu ini menggambarkan kekaguman terhadap sosok gadis Palembang yang mengenakan pakaian adat seperti kain songket dan pesona Kota Palembang secara umum.
Lirik:
Ya saman… ya saman… Elok rupo nian… Ya saman… ya saman… Cantik nian gadis Palembang
Pakai kebaya kain songket Berjalan lenggang di pinggir Musi Siapo bae yang memandang Pasti bakal jantuh hati
Ya saman… ya saman… Elok rupo nian… Ya saman… ya saman… Cantik nian gadis Palembang
Mempelajari lagu daerah Palembang lengkap dengan lirik dan maknanya adalah perjalanan melintasi waktu menuju kejayaan masa lalu dan kearifan lokal yang abadi. Dari sindiran jujur dalam Dek Sangke hingga kemegahan Gending Sriwijaya, setiap nada mengajak kita untuk lebih mencintai budaya Indonesia.
Mari kita terus lestarikan warisan ini dengan cara menyanyikannya, membagikannya di media sosial, atau sekadar memahaminya sebagai bagian dari identitas bangsa.
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.







