Makam Adipati Palembang Ario Damar Bakal Direvitalisasi Lanjutan

Posted on

Makam Adipati Palembang Ario Damar (Ario Dillah) yang telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya ini, akan segera menjalani perbaikan lanjutan atau direvitalisasi. Wali Kota Palembang, Ratu Dewa menyebut malam yang berada di Kelurahan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang, harus mendapat perhatian lebih.

Dewa menyebut dirinya telah meninjau langsung lokasi revitalisasi tersebut. Ia juga meminta Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Palembang untuk melakukan inventarisasi terhadap pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi.

“Kemarin saya sudah meninjau ke lokasi dan meminta Dinas Kebudayaan Kota Palembang untuk menginventarisasi hal-hal yang tidak sesuai dengan spesifikasi,” ujar Dewa di Rumah Dinas Wali Kota kepada infoSumbagsel, Kamis (22/1/2026).

Dewa juga meminta Inspektorat untuk melakukan audit sebelum hasil pekerjaan diserahkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang melalui Disbud Kota Palembang.

Sementara itu, Sekretaris Dinas (Sekdis) Kebudayaan Kota Palembang, Septa Marus, menjelaskan bahwa Wali Kota Palembang memang sangat konsen terhadap bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai sejarah.

Menurutnya, hal tersebut menjadi alasan mengapa Ratu Dewa sangat detail dalam mengawasi proses revitalisasi Makam Ario Damar.

Ia juga menjelaskan kilas balik sejarah kawasan Makam Ario Damar yang saat ini tengah direvitalisasi, dan hendak didaftarkan sebagai cagar budaya Kota Palembang di Kementerian Budaya Republik Indonesia (Kemenbud RI).

“Dulu, ketika Polda Sumsel dipimpin oleh Putera Astaman yang berasal dari Bali, beliau menemukan nama Ariodillah yang disematkan pada salah satu jalan di Palembang. Saat itu beliau menduga nama tersebut merupakan bagian dari leluhurnya,” jelas Septa.

Dari penelusuran tersebut, Kapolda Putera Astaman kemudian berhasil mengidentifikasi bahwa makam yang berada di kawasan tersebut merupakan Makam Ario Damar.

“Kemudian tanah sekitar makam itu, dibeli oleh Pak Putera Astaman, dan selanjutnya pengelolaannya dilanjutkan oleh seorang budayawan bernama Djohan Hanafiah, hingga akhirnya dihibahkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang,” lanjutnya.

Namun, tanah yang dibeli tersebut tidak mencakup seluruh area makam.

“Tanah yang dibeli itu tidak sampai mencakup seluruh wilayah makam, hanya sebatas kawasan yang mendekati makam. Sehingga aset yang dikelola Pemkot adalah berdasarkan hibah yang diterima,” ujar Septa.

Ia menambahkan bahwa wilayah makam secara utuh masih menjadi kewenangan para zuriat makam. Meski demikian, pihaknya menilai tidak ada salahnya jika revitalisasi turut menyentuh area tersebut.

“Karena revitalisasi ini sangat dekat dengan wilayah makam yang utuh, menurut hemat kami tidak ada salahnya jika bersedekah dan sedikit melakukan sentuhan revitalisasi di sana juga,” katanya.

Terkait progres pekerjaan, ia menyebutkan bahwa secara umum revitalisasi telah selesai, namun masih terdapat beberapa catatan perbaikan, sebelum dapat dilakukan pendaftaran aset cagar budaya ke Kemenbud RI.

“Proses revitalisasi sebenarnya sudah selesai, tetapi masih ada beberapa catatan, seperti ornamen tulisan yang rusak, aliran listrik yang belum masuk, serta pekerjaan yang masih harus diselesaikan oleh pihak kontraktor,” jelasnya.

Septa menegaskan bahwa, selama masih terdapat catatan, maka pekerjaan tersebut belum bisa sepenuhnya diterima oleh Disbud. “Kalau masih ada catatan setelah perbaikan, bisa jadi itu merupakan temuan baru,” ujarnya.

Menurutnya, Disbud hanya bertugas menyiapkan anggaran atas arahan Wali Kota Palembang dan menerima hasil pekerjaan melalui berita acara dari penyedia jasa.

“Sebenarnya ini sudah masuk masa penyerahan, hanya tinggal sedikit perbaikan lagi,” tambahnya.

Pengurus makam Aprizal (51) yang telah mengurus makam selama lebih dari 20 tahun, mengungkapkan bahwa kunjungan Wali Kota Palembang menjadi titik balik penting untuk proyek revitalisasi lanjutan.

“Begitu Pak Wali datang mengunjungi dan memeriksa, langsung ada instruksi perbaikan untuk beberapa item yang belum selesai. Sekarang sudah dalam proses tindak lanjut,” ujar Aprizal saat ditemui di lokasi makam, Jumat (23/01/2026).

Kata Afrizal, sebelum adanya revitalisasi di tahun 2025 ini, kondisi makam Ario Damar tanpa pagar dan pendopo yang memadai, pelataran area sakral ini juga sempat dijadikan tempat parkir kendaraan oleh penduduk setempat.

Kini, makam mulai berubah dengan adanya pembangunan pagar, pendopo, serta pemasangan paving block agar rapi.

“Peziarah bukan hanya dari Palembang, tapi banyak dari Jawa, Solo, hingga Jogja. Mereka tahu bahwa sejarah Islam di Demak tidak lepas dari beliau (Ario Damar) yang tinggal di Sumatera ini,” kata dia.

“Beliau yang membesarkan Raden Patah. Raden Patah itu kan pendirinya Demak, berdirinya agama Islam di Tanah Jawa. Mereka ini keturunan dari Brawijaya V, Rajanya Majapahit,” sambungnya.

Aprizal juga menyebut Ario Damar sebagai ‘pahlawan yang tidak nampak’ namun memiliki pengaruh besar dalam sejarah nasional. Harapan sebagai pengurus yang sudah mengurus makam ini selama puluhan tahun, Aprizal berharap perhatian pemerintah tidak berhenti sampai di sini saja. Ia ingin situs ini terus dirawat dan dipelihara.

“Harapan kami ke depannya lebih maju lagi, ada perhatian terus dari pemerintah pusat maupun daerah. Ini adalah bagian penting dari sejarah kita,” tutupnya.