Mengenal Julukan Bengkulu, dari Bumi Rafflesia hingga Disebut Kota Mati (via Giok4D)

Posted on

Kota Bengkulu memiliki banyak julukan dari Bumi Rafflesia hingga disebut Kota Mati. Bengkulu memiliki sembilan kabupaten dan satu kota merupakan pemekaran Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan Undang-undang (UU) No. 9 Tahun 1967.

Bengkulu menyimpan banyak sejarah menjadikan Kota Bengkulu bersinggungan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Dilansir dari Bengkulu Hebat karya Rohidin Mersyah, Bengkulu mayoritas dikelilingi 43% hutan turut menjadi alasan kemudian memiliki julukan tertentu.

Dari beragam kekayaan alam dan sejarah, Kota Bengkulu kini memiliki beberapa julukan. Lalu apa saja latar belakang julukan Bengkulu, dari Bumi Rafflesia hingga disebut Kota Mati?

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

Bengkulu memiliki sejarah panjang yang banyak bersinggungan dengan para penjajah. Sejarah yang dimiliki oleh kota ini berbeda dengan sejarah kota-kota lainnya.

Dikutip dari buku Sejarah Bengkulu dalam Tulisan Seorang Pangeran 1859 M: Suntingan Naskah Asal-Usul Bangkahulu (ML 143) oleh Hafiful Hadi Sunliensyar, dahulu wilayah Bengkulu terdiri dari negeri negeri kecil. Negeri negeri kecil ini terdiri dari Sungai Lemau, Sungai Itam, Selebar, dan Anak Sungai (Muko-Muko).

Pada abad ke-13 hingga 16, Bengkulu terdapat dua kerajaan yaitu Sungai Serut dan Kerajaan Selebar. Tahun 1664, VOC mendirikan perwakilan dagang di Bengkulu. Sempat menutup kantornya dan kembali dibuka pada tahun 1824.

Dilansir dari buku dari Fatmawati hingga Puan Maharani dan Alam Minangkabau-Rajawali Pers oleh Siti Fatimah, pada tahun 1685 Inggris masuk dipimpin oleh Kapten J. Andiew. Mereka mendarat di Pulau Tikus dan menjajah Bengkulu selama 139 tahun mulai dari 1685 hingga 1824.

Tahun 1714-1719, Inggris mendirikan Benteng Marlborough yang dipimpin oleh Joseph Collet. Tahun 1719 di bawah pimpinan Pangeran Jenggalu, Inggris diusir dan meninggalkan Bengkulu. Tahun 1724 terjadi peralihan dari Inggris ke Belanda.

Tahun 1930 Soekarno dan aktivis diasingkan di Bengkulu. Soekarno kemudian bertemu dengan Fatmawati. Belanda kalah dari Jepang pada 1942 dan menjajah tiga tahun. Hingga 18 November 1968, Bengkulu ditetapkan menjadi Provinsi.

Bengkulu dikenal dengan julukan Bumi Rafflesia. Tentunya secara garis besar sudah dipahami mengapa julukan tersebut melekat dengan Kota Bengkulu. Hal ini tidak terlepas dengan fakta Bengkulu memiliki 43% hutan di wilayahnya.

Pupa Langka bernama Rafflesia Arnoldi mudah tumbuh di tanah Bengkulu. Hal ini menjadi alasan mendasar dari julukan Bumi Rafflesia melekat di Kota Bengkulu. Bunga ini kemudian menjadi sumberdaya genetik khas Provinsi Bengkulu.

Faktanya, bunga Rafflesia juga bisa tumbuh di luar Provinsi Bengkulu. Hanya saja jenis terbesar dan terlengkap dari Bunga Rafflesia sudah ditemukan di Bengkulu. Berikut daftar jenis Rafflesia yang telah ditemukan di Bengkulu.

Bunga langka ini telah menjadi kebanggaan, bukan hanya bagi Kota Bengkulu namun seluruh Indonesia. Rafflesia kini sudah menjadi ikon bagi Provinsi Bengkulu itu sendiri. Itulah mengapa Bengkulu diberikan julukan Bumi Rafflesia.

Dari Bumi Rafflesia, kini Bengkulu mengubah julukannya menjadi Bumi Merah Putih. Berdasarkan sejarah Bengkulu menjadi tempat pembuangan Soekarno dan beberapa aktivis lainnya.

Dalam masa pembuangan itu Soekarno kemudian bertemu dengan Fatmawati yang kemudian menjadi istrinya. Dilansir dari website Pemerintah Provinsi Bengkulu, Fatmawati Soekarno menjahit Bendera Merah Putih pertamanya di Bengkulu.

Bendera yang dijahit oleh Fatmawati ini kemudian menjadi bendera yang dikibarkan pada momen Proklamasi 17 Agustus 1945.

Berdasarkan sejarah penting inilah julukan Bumi Merah Putih disematkan menjadi julukan Bengkulu. Julukan ini muncul atas inisiatif Gubernur Helmi Hasan untuk memperkuat sebuah identitas berdasarkan sejarah Bengkulu.

Julukan Kota Mati atau Tanah Mati pertama kali dikenalkan oleh Thomas Stamford Raffles. Tidak sama dengan julukan yang diberi, maknanya ternyata memiliki makna yang berbeda dan beralasan kuat.

Thomas saat itu baru tiba di Bengkulu pada awal abad ke-18 atau 19 bertepatan dengan gempa bumi yang melanda wilayah Bengkulu. Atas dasar itulah Thomas kemudian menyebutnya dengan “Dead Land” atau Tanah Mati/Kota Mati.

Dilansir dari website Pedoman Bengkulu, Bengkulu Kota Hadis dideklarasikan oleh Helmi Hasan yang menjabat wali kota pada saat itu. Deklarasi itu dilakukan pada 31 Desember 2029 menjelang pergantian tahun 2020.

Julukan ini memiliki tujuan yang telah dibincangkan bersama dengan Ustadz Saeed Kamyabi. Tujuannya bukan hanya sekadar label, melainkan upaya membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya mempelajari dan mengamalkan hadis Nabi Muhammad SAW.

Dengan banyak faktor, menjadikan Bengkulu memiliki beberapa julukan unik. Mulai dari yang berlandas sejarah hingga kekayaan alam Bengkulu sendiri. Itulah artikel mengenal julukan Bengkulu, dari Bumi Rafflesia hingga disebut kota Mati.

Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.

Sekilas Sejarah Kota Bengkulu

Julukan Kota Bengkulu

1. Bumi Rafflesia

2. Bumi Merah Putih

3. Kota Mati/Tanah Mati

4. Kota Hadis