Tradisi perahu bidar merupakan seni dayung tradisional yang berkembang di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Dikarenakan kota ini merupakan daerah yang dialiri oleh arus Sungai Musi, tradisi ini dilestarikan dan menjadi kebiasaan tahunan bagi masyarakat.
Diketahui, perahu bidar sudah ada sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Sultan Mahmud Badaruddin I, dulunya masyarakat mengenal bidar dengan nama ‘pelancang’. Biasanya, infoers bisa menjumpai tradisi ini pada perayaan Kemerdekaan RI di Palembang.
Tapi, sebenarnya apa sih Perahu Bidar? Berikut, infoSumbagsel rangkum informasi tentang Tradisi Perahu Bidar di Kota Palembang. Yuk simak!
Dilansir melalui Jurnal yang bertajuk Tradisi Perahu Bidar Sebagai Warisan Budaya Dalam Kehidupan Masyarakat Kota Palembang karya Andriamella Elfarissyah dan Siti Gomo Attas. Menyatakan hasil wawancaranya dengan budayawan asli Kota Palembang, ternyata tradisi perahu bidar sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya dan pertama kali dipertontonkan di zaman kolonial belanda tahun 1898, tepatnya saat perayaan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina.
Menurut cerita rakyat, ada legenda yang melekat di tradisi perahu bidar yaitu, tentang Putri Dayang Merindu. Dulunya, putri tersebut diperebutkan oleh dua orang pria, keduanya bertaruh dan berlomba mendayung perahu, siapa yang lebih cepat akan menjadi pasangan bagi Putri Dayang Merindu.
Namun, naasnya kedua pria tersebut tidak ada yang memenangkan perlombaan dan keduanya ditemukan dalam ketidak bernyawa dengan posisi perahu yang sudah terbalik. Merasa sedih, Dayang Merindu diketahui bunuh diri dengan menggunakan pisau beracun yang ia tusukan langsung ke dada. Masyarakat percaya sebelum dimakamkan, jasad Dayang Merindu dibagi menjadi dua dan dikuburkan masing-masing dengan bagian tubuhnya.
Selain itu, ada juga legenda mistis yang mengatakan dulunya jika seseorang ingin mengikuti perlombaan Perahu Bidar, dirinya harus melakukan semacam ritual di tempat prasasti Kedukan Bukit, Karang Anyar, Palembang supaya dapat memenangkan perlombaan.
Terlepas dari hal mistis tersebut, masyarakat biasanya memang melakukan ritual doa bersama terlebih dahulu, untuk meminta keselamatan dan permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Lebih lanjut, perahu bidar dulunya digunakan untuk menjaga keamanan wilayah perairan di Palembang. di zaman Kesultanan Palembang, perahu jenis ini digunakan untuk melakukan patroli sebab dapat berjalan dengan cepat. Pada umumnya dulu perahu ini memiliki panjang 10 hingga 20 meter dan lebar 1,5 sampai 3 meter. Kalo untuk muatanya, bisa menampung hingga 50 orang per satu perahu.
Sekarang Tradisi Bidar telah dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya pada Agustusan sebagai bentuk pelestarian. Biasanya pendayung tinggal di daerah-daerah yang dekat dengan aliran sungai. Salah satunya Kampung Keramasan yang berada di kawasan ulu Kota Palembang, tepatnya di Kertapati. Para pendayung yang memang merupakan keturunan masyarakat tersebut biasanya mendapatkan pelatihan dari keluarga mereka sebelumnya.
Perahu Bidar biasanya dilakukan pada HUT Kemerdekaan RI, tepatnya pada 17 Agustus. setiap kampung yang biasa mengikuti perlombaan ini, akan menyumbangkan timnya untuk berpartisipasi. Selain itu, biasanya Pemerintahan Kota, seperti BUMN, Asosiasi DInas, Organisasi Masyarakat dan lain-lain juga turut meramaikan kegiatan ini dengan perahu-perahu yang sebelumnya telah dihias.
Hal pertama yang harus disiapkan adalah perahu, biasanya memiliki panjang kurang lebih panjang 24-30 meter, lebar 75-100 centimeter dan tinggi mencapai 60-100 sentimeter. Setelah perahu selesai, poin penting lainnya yang harus disiapkan yaitu tim pendayung, biasanya dalam satu bidar akan membawa muatan orang kurang lebih 40 hingga 50 orang yang memiliki peran masing-masing sebagai pendayung, juru kemudi dan juga ketua regu.
Sedangkan untuk perahu bidar yang berukuran kecil biasanya hanya berisikan 11 orang yang memegang peran masing-masing sebagai pendayung, juru kemudi, serta ketua yang menjadi navigator jalan. Sebelum memulai perlombaan, para masyarakat akan melaksanakan doa bersama terlebih dahulu untuk memohon perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan YME.
Perlombaan akan dimulai dari garis awal yaitu di kawasan 35 ilir dan diakhiri di Plaza Benteng Kuto Besak (BKB). Kurang lebih waktu tempuhnya sejauh 1.500 meter. Jika masyarakat berminat, uang pendaftarannya gratis, cukup menyiapkan perahu saja. Untuk hadiah bagi pemenang biasanya akan ditentukan dari banyaknya sumbagsih dan juga sponsor, jadi tiap tahun bisa berubah-ubah.
Beberapa filosofi dan makna yang terkandung dalam tradisi Perahu Bidar, di antaranya:
Perahu bidar merupakan tradisi dan identitas bagi masyarakat Kota Palembang, ini merupakan cerminan kebudayaan maritim yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
Lomba bidar dikaitkan dengan kisah Putri Dayang Merindu yang memperebutkan kekasihnya. Kisah ini mengajarkan nilai keteguhan hati, keadilan, dan pengorbanan, menjadi daya tarik spiritual bagi para peserta
Ritual-ritual yang dilakukan sebelum lomba seperti doa, siraman bunga, hingga makan bersama memberikan gambaran dari upaya masyarakat dalam menjaga tradisi dan memohon keselamatan, mewariskan sejarah budaya dari generasi ke generasi.
Banyaknya pendayung dalam satu tim yang harus mengayuh secara serentak dan selaras untuk menggerakkan perahu bidar melambangkan kerja sama tim yang solid untuk mencapai tujuan bersama.
Perahu Bidar biasanya dilakukan setiap tanggal 17 agustus untuk memeriahkan HUT RI. Namun, kadang pelaksanaannya juga bertepatan dengan HUT Kota Palembang. Umumnya dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut. Jika infoers ingin menontonnya secara langsung, bisa mencatat tanggal pelaksanaannya. Agar tidak ketinggalan momen untuk memeriahkannya.
Pelaksanaannya yang dilakukan secara konsisten ini merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam melestarikan tradisi Perahu Bidar, bukan hanya pemerintah, masyarakat juga turut meramaikannya agar tidak hilang tertelan oleh zaman.
Bagi masyarakat yang berdiam di daerah yang dekat dengan Sungai Musi, biasanya memiliki profesi sebagai pembuat kapal. Dengan adanya tradisi ini, masyarakat yang berprofesi sebagai pembuat perahu bisa mendapatkan uang dari hasil menjual karya-karyanya. Ini jadi salah satu bentuk pelestarian dari perahu bidar dan penggerak perekonomian masyarakat.
Demikianlah penjelasan yang bisa infoSumbagsel rangkum terkait informasi tentang Tradisi Perahu Bidar. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu di artikel berikutnya!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris mahasiswa magang Prima PTKI kementerian Agama.
Sejarah Perahu Bidar
Pelaksanaan Tradisi Perahu Bidar
Filosofi Tradisi Perahu Bidar
1. Identitas dan Kebanggaan Masyarakat Kota Palembang
2. Cinta, Keadilan dan Pengorbanan
3. Tradisi Turun Temurun
4. Gotong Royong
Kapan Pelaksanaan Perlombaan Bidar
Penggerak Ekonomi Masyarakat
Beberapa filosofi dan makna yang terkandung dalam tradisi Perahu Bidar, di antaranya:
Perahu bidar merupakan tradisi dan identitas bagi masyarakat Kota Palembang, ini merupakan cerminan kebudayaan maritim yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
Lomba bidar dikaitkan dengan kisah Putri Dayang Merindu yang memperebutkan kekasihnya. Kisah ini mengajarkan nilai keteguhan hati, keadilan, dan pengorbanan, menjadi daya tarik spiritual bagi para peserta
Ritual-ritual yang dilakukan sebelum lomba seperti doa, siraman bunga, hingga makan bersama memberikan gambaran dari upaya masyarakat dalam menjaga tradisi dan memohon keselamatan, mewariskan sejarah budaya dari generasi ke generasi.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Banyaknya pendayung dalam satu tim yang harus mengayuh secara serentak dan selaras untuk menggerakkan perahu bidar melambangkan kerja sama tim yang solid untuk mencapai tujuan bersama.
Perahu Bidar biasanya dilakukan setiap tanggal 17 agustus untuk memeriahkan HUT RI. Namun, kadang pelaksanaannya juga bertepatan dengan HUT Kota Palembang. Umumnya dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut. Jika infoers ingin menontonnya secara langsung, bisa mencatat tanggal pelaksanaannya. Agar tidak ketinggalan momen untuk memeriahkannya.
Pelaksanaannya yang dilakukan secara konsisten ini merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam melestarikan tradisi Perahu Bidar, bukan hanya pemerintah, masyarakat juga turut meramaikannya agar tidak hilang tertelan oleh zaman.
Bagi masyarakat yang berdiam di daerah yang dekat dengan Sungai Musi, biasanya memiliki profesi sebagai pembuat kapal. Dengan adanya tradisi ini, masyarakat yang berprofesi sebagai pembuat perahu bisa mendapatkan uang dari hasil menjual karya-karyanya. Ini jadi salah satu bentuk pelestarian dari perahu bidar dan penggerak perekonomian masyarakat.
Demikianlah penjelasan yang bisa infoSumbagsel rangkum terkait informasi tentang Tradisi Perahu Bidar. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu di artikel berikutnya!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris mahasiswa magang Prima PTKI kementerian Agama.







