Pantauan bunting merupakan tradisi pernikahan yang berasal dari Suku Besemah, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Tradisi ini masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat sebagai simbol kebersamaan dan tali silaturahmi.
Kata pantauan bunting berasal dari bahasa Besemah “cek” yang berarti undangan dan “ammer” yang berarti pengantin. Tradisi ini telah dikenal oleh masyarakat Besemah sejak kecil.
Penasaran dengan tradisi Pantauan Bunting? Berikut infoSumbagsel sajikan informasi lengkapnya mulai dari pengertian, waktu pelaksanaan, hingga pergeseran tradisinya. Yuk, simak!
Tradisi pantauan bunting merupakan adat pernikahan khas Suku Besemah yang berasal dari Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Dilansir dari jurnal berjudul Keterkaitan Jarak Geografis Terhadap Eksistensi Tradisi Pantauan Bunting (Konstruksi Sosial Suku Besemah, Lahat, Indonesia), tradisi ini dilakukan dengan cara masyarakat sekitar akan memanggil sepasang pengantin untuk datang ke rumah mereka dan menyiapkan berbagai hidangan makanan ringan hingga berat.
Tradisi ini biasa dilaksanakan setelah akad nikah atau sehari sebelum pesta pernikahan dilangsungkan. Akan tetapi, ada sebagian masyarakat yang melaksanakan tradisi ini pada saat melangsungkan pernikahan baik pada pagi hari sebelum pesta dimulai atau sore hari setelah pesta dilangsungkan. Hal ini tergantung dengan kesepakatan antara masyarakat dan calon pengantin.
Dilansir dari jurnal berjudul Pertukaran Sosial Dalam Tradisi Pantauan Bunting Pada Suku Bangsa Besemah di Kota Pagaralam Provinsi Sumatera Selatan, berikut ini prosesinya:
Tradisi ini bertujuan memperkuat ikatan antar warga. Dengan berkeliling, pengantin menunjukkan rasa terima kasih pada orang-orang yang telah mendukung perjalanan hidup mereka, sekaligus menegaskan ikatan keluarga yang lebih luas.
Seiring dengan berjalannya waktu tradisi ini mulai mengalami beberapa pergeseran, sebagai berikut.
Terdapat beberapa makanan yang harus ada pada saat pantauan dulu, yaitu dodol, ikan pepes dan lemang yang merupakan makanan khas suku Besemah. Seiring berkembangnya zaman, makanan yang dihidangkan pun semakin beragam, bahkan ketiga makanan itu sudah sangat jarang ditemukan.
Jika dahulu pengantin laki-laki menggunakan jas dan perempuan menggunakan baju khas Besemah yaitu baju kutu baru atau bisa menggunakan kebaya serta bawahannya menggunakan kain yang disebut dengan kain kincong. Akan tetapi di zaman sekarang pengantin pria dapat menggunakan baju batik atau kokoh sedangkan perempuannya mengenakan dress atau gamis.
Dahulu apabila ada yang melangsungkan pernikahan, semua masyarakat akan melaksanakan tradisi Pantauan Bunting tanpa terkecuali. Tetapi kini, hanya pihak keluarga dan tetangga yang dirasa cukup dekat dengan calon pengantin.
Tradisi ini memerlukan biaya yang tak sedikit karena perlu untuk membeli makanan yang akan dihidangkan pada saat pelaksanaan tradisi. Sedangkan tak semua ekonomi masyarakat cukup dan memilih tidak melakukannya.
Itulah dia, rangkuman seputar tradisi Pantauan Bunting di Lahat, semoga rasa penasaran infoers terjawab ya!
Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.







