Mengulik tentang Pepadun dan Saibatin, Masyarakat Adat di Provinsi Lampung

Posted on

Pepadun dan Saibatin merupakan dua kelompok adat utama yang berdiam di Provinsi Lampung. Secara umum keduanya memiliki perbedaan, baik secara struktur sosial, adat istiadat dan kebudayaannya, sebab berada di kawasan yang berbeda.

Saibatin mendiami kawasan pesisir Lampung seperti Lampung Timur, Selatan, Barat, Pesawaran dan Tanggamus. Sedangkan Pepadun mendiami wilayah tengah dan utara Lampung, seperti Way Kanan, Tulang Bawang dan sebagian daerah di Lampung Timur dan Utara.

Penasaran apa itu Suku Saibaian dan Pepadun, berikut infoSumbagsel rangkum penjelasannya di bawah ini. Yuk simak!

Dilansir melalui jurnal yang bertajuk Pernikahan Adat Pepadun Perspektif Pendidikan Islam karya Rahma Zakia Al Erza Dkk. menjelaskan bahwa masyarakat adat Lampung Pepadun adalah salah satu dari dua kelompok adat besar dalam Masyarakat Lampung. Masyarakat ini mendiami daerah pedalaman atau daerah dataran tinggi Lampung. Berdasarkan sejarah perkembangannya, masyarakat pepadun awalnya berkembang di daerah Abung, Way Kanan, dan Way Seputih (Pubian). Kelompok Adat ini memiliki kekhasan dalam hal tatanan masyarakat dan tradisi yang berlangsung dalam masyarakat secara turun temurun.

Masyarakat suku Pepadun menganut sistem kekerabatan Patrilineal atau mengikuti garis keturunan ayah. Selain itu, suku ini juga lebih terbuka dan mengedepankan musyawarah antar golongan masyarakat dalam mengambil keputusan adat, jadi tidak hanya kaum bangsawan saja yang bisa ikut andil dalam setiap prosesi adat.

Selain itu, untuk mendapatkan gelar secara adat di suku pepadun tidak perlu memiliki garis keturunan saja, masyarakat biasa juga bisa memiliki status sosial yang tinggi dengan cara menunjukkan wibawa, kemampuan dan pencapaian yang bermanfaat bagi masyarakat dengan menggunakan prosesi adat yang dikenal sebagai Cakak Pepadun.

Saibatin merupakan kelompok masyarakat adat yang mendiami daerah pesisir Lampung yang tersebar dari timur, selatan, hingga barat. Wilayahnya mencakup Lampung Timur, Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, Tanggamus dan Lampung Barat.

Saibatin secara bahasa berarti satu junjungan, Suku ini menjunjung tinggi persatuan dan loyalitas kepada satu pemimpin adat. Dalam sistem kepemimpinannya, suku Saibatin hanya memiliki satu raja atau tetua adat dalam satu generasi, jabatan ini didapat secara turun temurun. Skema ini membuat suku Saibatin terkenal dengan sifat aristokratis dan mengutamakan derajat serta status sosial seseorang yang telah didapat sejak lahir. Jadi, masyarakat biasa tidak bisa mendapatkan gelar atau mengambil gelar.

Lebih lanjut, Saibatin menganut sistem yang sama dengan Pepadun yaitu Patrilineal atau garis keturunan yang diambil dari pihak ayah. Maka dari itu, kedudukan laki-laki lebih tinggi dalam suku ini, sebab dianggap sebagai pewaris, penerus marga dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Dalam sisi pemerintahan, Saibatin menganut sistem Hierarkis dan menjunjung tinggi tradisi adat yang berkembang. Dalam adat ini masyarakat dibagi-bagi menjadi beberapa tingkatan, setiap tingkatan yang ada memiliki peran tersendiri untuk menjaga keseimbangan suku Saibatin.

Perbedaan antara Suku Saibatin dan Pepadun terletak di berikut penjelasannya:

Struktur sosial Saibatin bersifat Aristokratis dan Hierarkis atau warisan keturunan bangsawan, setiap satu periode kepemimpinan, Saibatin hanya memiliki satu pemimpin tunggal. Sedangkan Pepadun lebih egaliter, terbuka dan demokratis dengan pemimpin yang diangkat secara adat dan melalui permusyawaratan antar adat.

Perbedaan kebudayaan antara Saibatin dan Pepadun disebabkan oleh perbedaan kawasan. masyarakat Saibatin tinggal didaerah pesisir dan maritim. Sementara suku Pepadun mendiami daerah daratan.

Akibatnya, kedua suku memiliki kebudayaan dan mata pencaharian yang berbeda-beda, Saibatin didominasi oleh penduduk yang berprofesi sebagai nelayan dan pelaut, sedangkan Pepadun karena mendiami daerah pedalaman dan dataran tinggi, penduduknya lebih banyak yang menjadi petani.

Terdapat beberapa perbedaan yang terlihat sangat jelas antara baju Adat Saibatin dan Pepadun, berikut penjelasannya:

a. Baju Adat Saibatin

Baju Adat suku saibatin memiliki ciri khas warna merah menyala, Kaum lelaki menggunakan penutup kepala yang diikat, bajunya berwarna putih dan dipadupadankan dengan kemeja yang berwarna merah pula. Untuk bagian celananya, biasanya lelaki disana menggunakan kain tumpal sebatas lutut yang dikuatkan dengan ikat pinggang, fungsinya untuk menutup celana yang memiliki warna gelap. Terakhir sebagai ornamen atau aksesoris tambahan, sisipkan keris di bagian kanan celana.

Sementara, kaum wanita menggunakan baju kawai maju yang terbuat dari kain beludru dengan motif bunga. Sebagai aksesoris tambahan, biasanya kaum wanita menambahkan beberapa aksesoris leher atau lengan seperti Kakalah Bangkang dan Bulan Tananggal.

Lebih lanjut, agar lebih manis wanita juga menggunakan aksesoris kepala yang dikenal sebagai siger, ditambahkan dengan hiasan dari bunga daun bambu atau bunga melur. Untuk sanggul hanya dihias menggunakan sial kikha dan bunga daun bambu.

Terakhir, sebagai ornamen tambahan selempang di bahu kanan yakni kain cempaka lalu ditutup kain putih atau kuning dari bahan limar yang diselempangkan di bahu kiri. Kain sarung terbuat dari kain tumpal atau sinjang tekhitis dihiasi bintang maju atau buduk. Memakai ikat pinggang atau pending.

b. Baju Adat Pepadun

Baju adat suku Pepadun didominasi dengan warna putih yang melambangkan kesucian dan kemurnian pemakaiannya, dilengkapi dengan siger 9 lekuk untuk orang yang memiliki marga tertentu. Setiap aksesoris yang ada pada baju adat suku Pepadun memiliki makna dan filosofi yang mendalam, diantaranya:

Perbedaan utama bahasa Saibatin dan Pepadun terletak pada dialek yang khusus, Suku Saibatin menggunakan dialek A atau Api, sedangkan Pepadun menggunakan dialek O atau Nyo yang mencerminkan perbedaan wilayah .

Contoh Kalimat Dialek A:

Api kabar (A): apa kabar?
Nyak cinta jama niku (A): aku cinta kamu
Nyak demon jama nikeu (A): aku suka kamu
Nyak haga mit sekulah (A): aku mau ke sekolah
Api si dapok ku bantu/tulung? (A): apa yang bisa saya bantu?
Sapa gelakhmu? (A): siapa namamu?

Contoh Kalimat Dialek O:

Nyow Kabar? (O): apa kabar?
Nyak cinta jamo nikeu (O): aku cinta kamu
Nyak iling jami nikeu (O): aku suka kamu
Nikeu ghadeu mengan? (O): kamu sudah makan?
Nyak/ikam ago pedem pay (O): saya mau tidur dulu

Saibatin dan Pepadun merupakan dua sub suku utama yang tumbuh di Provinsi Lampung, secara geografis, sosial dan budaya, setiap suku memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Meski adanya perbedaan tersebut, keduanya hidup saling berdampingan dan tidak saling berseteru.

Nah, itulah penjelasan singkat mengenai Suku Pepadun dan Saibatin Lampung yang bisa infoSumbagsel rangkum pada artikel kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di penjelasan berikutnya!

Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama.

Apa itu Pepadun?

Apa Itu Saibatin?

Apa Perbedaan Saibatin dan Pepadun?

1. Struktur Sosial

2. Kebudayaan

3. Baju Tradisional

4. Bahasa

Perbedaan antara Suku Saibatin dan Pepadun terletak di berikut penjelasannya:

Struktur sosial Saibatin bersifat Aristokratis dan Hierarkis atau warisan keturunan bangsawan, setiap satu periode kepemimpinan, Saibatin hanya memiliki satu pemimpin tunggal. Sedangkan Pepadun lebih egaliter, terbuka dan demokratis dengan pemimpin yang diangkat secara adat dan melalui permusyawaratan antar adat.

Perbedaan kebudayaan antara Saibatin dan Pepadun disebabkan oleh perbedaan kawasan. masyarakat Saibatin tinggal didaerah pesisir dan maritim. Sementara suku Pepadun mendiami daerah daratan.

Akibatnya, kedua suku memiliki kebudayaan dan mata pencaharian yang berbeda-beda, Saibatin didominasi oleh penduduk yang berprofesi sebagai nelayan dan pelaut, sedangkan Pepadun karena mendiami daerah pedalaman dan dataran tinggi, penduduknya lebih banyak yang menjadi petani.

Terdapat beberapa perbedaan yang terlihat sangat jelas antara baju Adat Saibatin dan Pepadun, berikut penjelasannya:

a. Baju Adat Saibatin

Baju Adat suku saibatin memiliki ciri khas warna merah menyala, Kaum lelaki menggunakan penutup kepala yang diikat, bajunya berwarna putih dan dipadupadankan dengan kemeja yang berwarna merah pula. Untuk bagian celananya, biasanya lelaki disana menggunakan kain tumpal sebatas lutut yang dikuatkan dengan ikat pinggang, fungsinya untuk menutup celana yang memiliki warna gelap. Terakhir sebagai ornamen atau aksesoris tambahan, sisipkan keris di bagian kanan celana.

Sementara, kaum wanita menggunakan baju kawai maju yang terbuat dari kain beludru dengan motif bunga. Sebagai aksesoris tambahan, biasanya kaum wanita menambahkan beberapa aksesoris leher atau lengan seperti Kakalah Bangkang dan Bulan Tananggal.

Lebih lanjut, agar lebih manis wanita juga menggunakan aksesoris kepala yang dikenal sebagai siger, ditambahkan dengan hiasan dari bunga daun bambu atau bunga melur. Untuk sanggul hanya dihias menggunakan sial kikha dan bunga daun bambu.

Terakhir, sebagai ornamen tambahan selempang di bahu kanan yakni kain cempaka lalu ditutup kain putih atau kuning dari bahan limar yang diselempangkan di bahu kiri. Kain sarung terbuat dari kain tumpal atau sinjang tekhitis dihiasi bintang maju atau buduk. Memakai ikat pinggang atau pending.

b. Baju Adat Pepadun

Baju adat suku Pepadun didominasi dengan warna putih yang melambangkan kesucian dan kemurnian pemakaiannya, dilengkapi dengan siger 9 lekuk untuk orang yang memiliki marga tertentu. Setiap aksesoris yang ada pada baju adat suku Pepadun memiliki makna dan filosofi yang mendalam, diantaranya:

Perbedaan utama bahasa Saibatin dan Pepadun terletak pada dialek yang khusus, Suku Saibatin menggunakan dialek A atau Api, sedangkan Pepadun menggunakan dialek O atau Nyo yang mencerminkan perbedaan wilayah .

Contoh Kalimat Dialek A:

Api kabar (A): apa kabar?
Nyak cinta jama niku (A): aku cinta kamu
Nyak demon jama nikeu (A): aku suka kamu
Nyak haga mit sekulah (A): aku mau ke sekolah
Api si dapok ku bantu/tulung? (A): apa yang bisa saya bantu?
Sapa gelakhmu? (A): siapa namamu?

Contoh Kalimat Dialek O:

Nyow Kabar? (O): apa kabar?
Nyak cinta jamo nikeu (O): aku cinta kamu
Nyak iling jami nikeu (O): aku suka kamu
Nikeu ghadeu mengan? (O): kamu sudah makan?
Nyak/ikam ago pedem pay (O): saya mau tidur dulu

Saibatin dan Pepadun merupakan dua sub suku utama yang tumbuh di Provinsi Lampung, secara geografis, sosial dan budaya, setiap suku memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Meski adanya perbedaan tersebut, keduanya hidup saling berdampingan dan tidak saling berseteru.

Nah, itulah penjelasan singkat mengenai Suku Pepadun dan Saibatin Lampung yang bisa infoSumbagsel rangkum pada artikel kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di penjelasan berikutnya!

Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama.

Apa Perbedaan Saibatin dan Pepadun?

1. Struktur Sosial

2. Kebudayaan

3. Baju Tradisional

4. Bahasa