Pemula Wajib Tahu! Ini Perbedaan Investasi Reksadana, Saham-Obligasi

Posted on

Investasi bukan lagi barang mewah. Anak muda hingga pekerja kantoran semakin melek finansial dengan menempatkan uangnya di pasar modal. Bagi pemula, memahami perbedaan investasi reksadana, saham, dan obligasi menjadi hal penting agar dapat memilih instrumen yang sesuai kebutuhan dan tujuan keuangan.

Tiga instrumen yang paling banyak diminati oleh investor individu atau ritel adalah saham, obligasi, dan reksa dana. Masing-masing memiliki potensi keuntungan serta tingkat risiko yang berbeda.

Oleh karena itu, calon investor perlu memahami perbedaan setiap produk agar dapat menentukan pilihan investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangannya.

Lalu, apa saja perbedaan dari tiga instrumen investasi populer tersebut? Simak ulasan lengkap mengenai reksadana, saham, dan obligasi berikut ini. Yuk, simak!

Dilansir jurnal Analisis Perbandingan Kinerja Reksadana Saham dan Reksa Dana Pendapatan Tetap yang Terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan oleh Desmizar dan jurnal berjudul Kinerja Investasi Reksadana Selama Pandemi Covid 19 oleh Ade Eka dkk, inilah perbedaan ketiga instrumen investasi.

Reksa Dana merupakan wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk kemudian dikelola oleh manajer investasi dalam portofolio efek. Portofolio tersebut dapat berupa saham, obligasi maupun instrumen pasar uang tergantung pada jenis reksa dananya

Salah satu keunggulan utama dari reksa dana ini adalah kemudahan dan kepraktisannya. Seorang investor tidak perlu susah payah untuk menganalisis pasar atau memiliki efek secara mandiri karena seluruh pengelolaannya ini dilakukan langsung oleh manajer investasi yang sudah professional.

Selain itu, reksadana juga menawarkan diversifikasi otomatis yang bisa membantu menekan risiko. Untuk harga reksa dana sendiri dikenal dengan istilah Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang dihitung setiap hari bursa.

Risiko reksadana bergantung pada jenisnya, reksa dana saham memiliki risiko yang lebih tinggi dibanding reksadana pendapatan tetap atau pasar uang. Reksadana ini sangat cocok bagi investor pemula hingga menengah yang memiliki profil risiko moderat sampai agresif yang menginginkan investasi praktis, terkelola profesional dan fleksibel dari sisi modal.

Saham merupakan bukti kepemilikan atau penyertaan modal seseorang maupun lembaga dalam suatu perusahaan. Ketika seseorang membeli saham, artinya memiliki sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki.

Dalam konteks reksa dana, saham juga menjadi salah satu instrumen yang masuk ke dalam portofolio efek dan dikelola oleh manajer investasi.

Investor saham berpotensi memperoleh keuntungan dari dua sumber utama, yaitu dividend dan capital gain. Dividen sendiri merupakan bentuk pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham.

Sedangkan capital gain berasal dari selisih harga beli dan harga jual saham. Harga saham juga dapat diketahui secara pasti pada saat melakukan transaksi yang dilakukan di bursa efek.

Saham memiliki karakteristik harga yang sangat fluktuatif karena dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, hingga sentimen pasar global.

Investasi saham dikenal dengan prinsip high risk, high return, di mana potensi keuntungan besar sebanding dengan risiko kerugian seperti capital loss atau risiko likuiditas apabila perusahaan mengalami masalah serius.

Investor yang cocok dengan investasi saham ini adalah mereka yang memiliki profil risiko agresif, memiliki tujuan investasi jangka panjang, serta siap menghadapi volatilitas pasar demi peluang imbal dan hasil yang tinggi.

Obligasi merupakan surat utang jangka menengah hingga panjang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan. Investor yang membeli obligasi pada dasarnya memberikan pinjaman kepada penerbit obligasi, dan sebagai gantinya akan menerima keuntungan hasil berupa bunga atau kupon secara berkala.

Keunggulan utama obligasi terletak pada stabilitasnya, dibandingkan saham dan pergerakan harga obligasi yang cenderung stabil. Selain itu, adanya pembayaran kupon secara rutin juga menjadikannya lebih menarik bagi para investor yang menginginkan pendapatan tetap. Obligasi yang dikelola pemerintah dinilai lebih aman karena dijamin oleh negara.

Meski relatif stabil, obligasi juga tetap memiliki resiko, seperti gagal bayar dan risiko suku bunga. Apabila suku bunga acuan naik, maka harga obligasi di pasar sekunder cenderung turun. Tidak semua obligasi juga memiliki tingkat likuiditas yang tinggi.

Obligasi ini sangat cocok bagi para investor yang memiliki profil risiko moderat hingga konservatif yang mengutamakan modal, stabilitas dan pendapatan rutin.

Secara umum, saham menawarkan potensi keuntungan tertinggi namun dengan risiko yang besar juga. Reksa dana memberikan kemudahan dan diversifikasi dengan risiko yang lebih bervariasi, sementara obligasi menawarkan stabilitas dan pendapatan rutin dengan risiko yang reltih lebih rendah.

Menentukan instrumen investasi yang tepat pada dasarnya tergantung pada tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing individu. Bagi investor yang berorientasi pada pertumbuhan aset jangka panjang dan siap menghadapi risiko tinggi, saham dapat menjadi pilihan karena menawarkan potensi keuntungan yang besar seiring kinerja perusahaan, meskipun pergerakan harganya cenderung fluktuatif.

Sementara itu, bagi investor yang mengutamakan stabilitas dan menginginkan pendapatan rutin, obligasi menjadi alternatif yang lebih aman. Melalui obligasi, investor memperoleh keuntungan hasil berupa kupon yang dibayarkan secara berkala, dengan tingkat risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan saham, terutama pada obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah.

Di sisi lain, reksa dana hadir sebagai solusi praktis bagi pemula yang ingin mulai berinvestasi tanpa harus memantau pasar setiap saat. Dengan modal yang relatif terjangkau dan pengelolaan oleh manajer investasi profesional, reksa dana memungkinkan investor berinvestasi secara terdiversifikasi sesuai profil risiko, baik agresif, moderat, maupun konservatif.

Kombinasi ketiga instrumen investasi yakni saham, obligasi, dan reksa dana juga menjadi strategi yang seimbang. Asalkan investor bisa menyesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, serta kemampuan investor dalam menghadapi risiko.

Artikel ini ditulis oleh Rika Amelia Peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker info.com

Perbedaan Investasi Reksadana, Saham, dan Obligasi

1. Reksadana

2. Investasi Saham

3. Obligasi

Mana yang Harus Dipilih dari 3 Investasi?