Isra Miraj merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Selain menunjukkan kebesaran Allah SWT, kisah tersebut menjadi titik penting penguatan spiritual Nabi Muhammad SAW serta umat Islam secara keseluruhan.
Dilansir Jurnal Dewantara Vol. XI yang ditulis oleh Yuyun Yunita, peristiwa Isra Miraj terjadi pada suatu malam ketika Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, dan kemudian dinaikkan ke Sidratul Muntaha.
Perjalanan luar biasa tersebut dilakukan atas kehendak Allah SWT dan ditemani oleh Malaikat Jibril dengan menaiki kendaraan buraq. Peristiwa ini menjadi bentuk kemuliaan yang diberikan kepada Rasulullah SAW.
Berikut adalah ulasan singkat mengenai kisah isra miraj Nabi Muhammad SAW.
Secara bahasa Isra berarti perjalanan malam dari Masjidil Aqsa menuju Masjidi Haram Mekah, sedangkan Miraj bermakna menaiki tangga ke Sidratul Muntaha.
Dari arti tersebut, Isra dan miraj bermakna suatu perjalanan rohani dan jasmani yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, dan dalam perjalanan tersebut menghasilkan perintah untuk salat lima waktu.
Dalam perjalanan Miraj, Rasulullah SAW dinaikkan ke langit pertama hingga langit ketujuh. Pada setiap lapisan langit, beliau bertemu dengan para nabi terdahulu, diantaranya yaitu, Nabi Adam di langit pertama, Nabi Yahya dan Nabi Isa di langit kedua, Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit keempat, Nabi Harun di langit kelima, Nabi Musa di langit keenam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh.
Pertemuan itu mengartikan kesinambungan risalah tauhid yang dibawa para nabi dari masa ke masa. Puncak dari peristiwa miraj adalah ketika Rasulullah SAW sampai di Sidratul Muntaha dan menerima perintah langsung dari Allah SWT berupa kewajiban salat.
Awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh kali sehari, namun atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah SAW memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu, tanpa mengurangi nilai pahala yang dijanjikan Allah SWT.
Selain itu, Rasulullah SAW juga diperlihatkan berbagai gambaran balasan bagi manusia, baik surga bagi orang-orang yang taat maupun siksa bagi mereka yang melanggar perintah Allah. Gambaran tersebut menjadi peringatan sekaligus pelajaran moral dalam ajaran Islam, bagi manusia agar senantiasa berada di jalan yang lurus.
Ketika Rasulullah SAW menyampaikan peristiwa Isra Miraj kepada masyarakat Makkah, banyak yang meragukan bahkan mendustakannya. Perjalanan dalam satu malam dari Mekah ke Palestina hingga ke langit dianggap mustahil oleh logika manusia saat itu.
Namun, salah seorang sahabat Nabi yaitu Abu Bakar dengan penuh keyakinan membenarkan peristiwa tersebut tanpa ragu. Sehingga sikap tersebut kemudian mengantarkannya memperoleh gelar As-Shiddiq yaitu gelar orang yang senantiasa membenarkan kebenaran Rasulullah SAW.
Berdasarkan Skripsi yang ditulis oleh Sri Wahyuningsih, terdapat tafsir mengenai isra miraj dijelaskan sebagai berikut.
Menurut Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Tafsir Aisar At-Tafasir, peristiwa Isra dan Miraj merupakan perjalanan nyata yang dialami Rasulullah SAW dengan ruh dan jasad sekaligus.
Peristiwa ini terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT sebagai bentuk kemuliaan yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menegaskan bahwa, penyebutan kata hamba-Nya dalam QS. Al-Isra ayat 1, itu menunjukkan kesatuan antara ruh dan jasad. Dengan demikian, Isra Mikraj bukan sekadar mimpi atau pengalaman batin, melainkan mukjizat yang benar-benar terjadi.
Al-Jazairi juga menjelaskan bahwa kata Subhana di awal ayat tersebut berfungsi menegaskan kesucian dan kemahakuasaan Allah SWT. Melalui kata tersebut, Allah menegaskan bahwa peristiwa Isra Mikraj berada di luar batas kemampuan manusia, namun sepenuhnya mungkin terjadi atas kehendak-Nya.
Lebih lanjut, dalam tafsir QS. An-Najm ayat 1-18, dijelaskan bahwa apa yang disaksikan Rasulullah SAW dalam peristiwa Mikraj adalah benar dan nyata. Penglihatan Nabi tidak keliru dan tidak didustakan oleh hatinya. Hal ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW benar-benar menyaksikan sebagian tanda kebesaran Allah SWT.
Dari peristiwa tersebut itulah, Allah SWT menetapkan kewajiban shalat lima waktu sebagai ibadah utama umat Islam. Shalat memiliki kedudukan istimewa karena diperintahkan secara langsung, sehingga menjadi sarana utama bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di balik peristiwa besar itu, terdapat banyak hikmah yang dapat dipetik, di antaranya:
1. Isra Miraj menegaskan kewajiban salat lima waktu sebagai fondasi utama ibadah umat Islam. Salat bukan sekadar ibadah, melainkan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya.
2. Peristiwa tersebut mengajarkan tentang kekuasaan Allah SWT yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Apa yang mustahil menurut manusia, sangat mungkin bagi Allah SWT. Hal ini sekaligus memperkuat keimanan dan keyakinan umat Islam terhadap kebesaran-Nya.
3. Isra Miraj menjadi penghibur bagi Rasulullah SAW setelah mengalami masa-masa sulit, termasuk wafatnya orang-orang terdekat hingga penolakan dakwah. Berangkat dari peristiwa itu, umat Islam diajarkan bahwa setelah kesulitan, akan selalu ada pertolongan dan kemudahan dari Allah SWT.
4. Gambaran surga dan neraka yang diperlihatkan kepada Rasulullah SAW menjadi peringatan moral agar manusia menjauhi kezaliman, riba, dan perbuatan maksiat, serta senantiasa menjaga akhlak dan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.
Peristiwa Isra Miraj, begitu sarat dengan nilai pendidikan, spiritual, dan moral. Melalui peristiwa tersebut, umat Islam diajak untuk memperkuat iman, menjaga shalat, serta meneladani keteguhan dan keikhlasan Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan dan dakwah.
Itulah ulasan singkat mengenai peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, lengkap dengan tafsir dan hikmah dibaliknya. Semoga bermanfaat ya!
Artikel ini ditulis oleh Aldekum Fatih Rajih, peserta magang Prima PTKI Kementerian Agama RI.







