Produksi baru bara Sumatera Selatan sepanjang 2025 mencapai 120,74 juta ton. Realisasi itu tak mencapai target yang ditetapkan sebesar 164,27 juta ton atau minus 43,43 juta ton.
Meski begitu, capaian produksi batu bara itu mengalami kenaikan dibandingkan 2024 yang terealisasi 113,29 juta ton. Produksi itu juga membuat realisasi produksi Sumsel tercapai 100 juta ton sejak 2023.
“Untuk tahun ini target rencana produksi 2026 sebesar 156,01 juta ton,” ujar Kepala Bidang Teknik dan Penerimaan Minerba Dinas ESDM Sumsel Armaya Sentanu Pasek, Senin (26/1/2026).
Namun, dia menyebut rencana target itu belum ditentukan dalam RKAB oleh Kementerian ESDM.
Terkait wilayah yang memproduksi batu bara, dia menyebut terbanyak di Muara Enim, diikuti Lahat, Musi Banyuasin, dan OKU. Beberapa daerah lain seperti PALI, Muratara, dan Banyuasin juga menunjukkan peningkatan produksi yang cukup signifikan.
Katanya, peningkatan produksi ini tak lepas dari aktivitas pertambangan yang terus berjalan serta optimalisasi izin usaha pertambangan (IUP).
“Saat ini terdapat sekitar 122 IUP tambang batu bara yang aktif di Sumsel,” katanya.
Armaya menyebutkan jumlah cadangan batu bara yang dimiliki Sumsel saat ini diperkirakan mencapai 100 tahun ke depan jika dikelola optimal dan berkelanjutan.
“Selain kontribusi terhadap energi nasional, sektor pertambangan batu bara juga masih menjadi salah satu sumber penerimaan daerah yang penting. DBH dari tambang batu bara hingga kini masih menjadi andalan penerimaan bagi Sumsel maupun kabupaten/kota penghasil,” jelasnya.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
