Mandi Kasai merupakan tradisi unik yang dilakukan oleh pengantin baru di Kota Lubuk Linggau, Sumsel. Ritual ini merupakan proses atau tahapan terakhir yang harus dilakukan sebelum keduanya sah menjadi seorang pengantin.
Dilansir jurnal berjudul Tradisi Mandi Kasai Masyarakat Dusun Linggau Karya Sri Cahyani dkk, tercatat melalui sejarah, tradisi mandi kasai atau mandi pengantin telah dilakukan oleh masyarakat Lubuk Linggau terutama kawasan Batu Urip sejak turun temurun.
Penasaran dengan informasi lengkapnya? Berikut infoSumbagsel rangkum penjelasan lengkap terkait tradisi Mandi Kasai di bawah ini. Yuk simak!
Menurut sejarah tradisi mandi kasai dibawa oleh seseorang yang dikenal dengan nama Mambul, ia merupakan kepala desa pada saat itu. Diketahui Mambul memperoleh tradisi ini disaat dirinya sedang bermalam di Kesultanan Palembang untuk mengurus administrasi dan pajak.
Setiap kali dirinya ke kerajaan, mambul mempelajari budaya Mandi Kasai, setelah memahami tradisi ini, ia kembali ke Lubuklinggau dan mulai menerapkannya di Kawasan Batu Urip dan digunakan di setiap acara pernikahan Masyarakat Lubuklinggau kala itu.
Secara umum, mandi kasai dilakukan di sungai. tahapan ini harus dilakukan pada sore hari setelah semua acara pernikahan selesai. Namun, terkadang ritual ini tidak dilaksanakan langsung di sungai.
Hal ini disebabkan aliran sungai yang tidak menentu, terkadang deras dan ini bisa membahayakan kedua mempelai. Jadi sebagai gantinya, masyarakat juga tetap bisa melakukannya di pelataran rumah dengan tetap menggunakan air yang diambil dari sungai.
Para Pengantin akan diarak dengan menggunakan alat musik tradisional menuju ke sungai atau halaman. Pengantin laki-laki akan menggunakan pakaian songket setengah tiang, memakai pending atau ikat pinggang, papai yang dikalungkan di leher, ikat kepala dan membawa keris pusaka.
Sedangkan pengantin perempuan akan mengenakan kebaya dengan dipadukan bersama kain songket atau lasem. Selain itu, mempelai wanita juga harus menggunakan aksesoris tambahan seperti kalung, selendang dan ikat kepala atau tapung.
Dalam proses arak-arakan, kedua mempelai harus berjalan sejajar dengan diapit oleh ketua bujang dan ketua dere. Uniknya, selama proses ini mempelai laki laki harus memindahkan kerisnya ke kiri dan ke kanan hingga sampai ke lokasi tujuan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar kedua pasangan tersebut bisa dikaruniai keturunan.
Selepas sampai ke tempat prosesi Mandi Kasai, para bujang yang sebelumnya membawa perlengkapan ritual, akan menggelar tikar anyaman atau tikar purun sebagai tempat duduk untuk kedua pasangan tersebut.
Pada proses pertama, kedua pasangan tersebut akan disirami dengan air yang telah dicampur dengan daun jeruk nipis yang sudah diiris-iris, kayu balik angin, potongan tiang kayu dan diaduk menggunakan daun setawar sedingin.
Ramuan tersebut diguyur di kepala keduanya menggunakan mangkuk lengger. Tetua adat akan memegang tangkai daun setawar sedingin dan mencelupkannya ke dalam mangkuk langer yang telah berisi ramuan.
Setelahnya, tetua adat akan menancapkan daun tersebut ke atas ubun-ubun pengantin laki-laki, sebaliknya hal yang sama juga dilakukan untuk mempelai perempuan. Masing-masing mempelai akan mendapatkan tiga atau tujuh kali perasan air jeruk nipis.
Setelah melakukan proses ini, pihak keluarga dari kedua mempelai akan menghimbau kepada seluruh warga untuk serentak menyoraki pengantin dengan sorakan “Sorak Benyan, OI,”.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Proses ini sebagai tanda bahwa prosesi telah selesai, Kedua pengantin akan dibantu oleh ketua bujang dan ketua dere untuk berganti pakaian dengan tulisan atau semacam handuk kain.
Pengantin perempuan harus menggunakan tulisan yang tingginya menutup hingga dada, sedangkan laki-laki cukup menggunakannya di atas pinggang. Jika prosesi dilakukan di sungai, setelah keduanya berganti telesan, para ketua akan menceburkan mempelai kedalam sungai.
Prosesi pemasukan kedua mempelai di sungai merupakan tahapan terakhir dari tradisi mandi kasai. setelahnya, pasangan tersebut akan dibantu untuk naik ke darat dan diarak kembali kerumah yang telah diisi oleh keluarga besar pihak laki-laki dan perempuan.
Mandi kasai dikenal sebagai ritual untuk membersihkan diri untuk kedua pengantin, tak sama seperti mandi yang biasanya dilakukan sehari-hari. tradisi ini memiliki nilai luhur yang bertujuan untuk membersihkan jiwa, badan dan rohani kedua mempelai sebelum memulai kehidupan rumah tangga,
Filosofi kedua dari tradisi ini adalah pemaknaan simbolik yang menunjukan perubahan status kedua mempelai, yang awalnya remaja beralih dan memasuki kehidupan berumah tangga.
Keduanya akan diberikan nasihat serta diperkenalkan kepada keluarga besar sebagai pengantin baru. Masyarakat di Lubuk Linggau menilai mandi kasai bukan hanya sebagai ritual atau tradisi biasa.
Melainkan bentuk budaya yang memiliki makna pembersihan jiwa dan raga bagi kedua calon pengantin serta sebagai tanda lepasnya masa remaja dan memasuki dunia rumah tangga. Pada intinya, selain elemen keagamaan, ekspresi budaya juga turut memeriahkan proses pernikahan seseorang.
Di Indonesia sendiri, adat pernikahan berjalan beriringan dengan budaya yang tumbuh di masyarakat. Mandi Kasai merupakan adat yang berlaku di Lubuk Linggau, meski sudah tidak lagi digunakan oleh masyarakat, Tradisi ini tetap abadi dihati masyarakat Lubuk Linggau.
Nah, itulah penjelasan mengenai tradisi mandi kasai yang telah dirangkum oleh infoSumbagsel. Tunggu informasi lainnya ya infoers!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama.







