Sumatera Selatan tidak hanya terkenal dengan pempek Pempek. Jika infoers berkunjung ke Bumi Sriwijaya, ada satu hidangan wajib yang melambangkan kekayaan sungai dan rempah-rempahnya, yaitu pindang.
Melansir data dari Direktorat Perlindungan Kebudayaan, Pindang di Sumatera Selatan telah resmi tercatat dan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Di antara banyaknya variasi pindang yang ada, dua nama selalu menjadi perdebatan menarik bagi para pencinta kuliner, Pindang Pegagan dan Pindang Meranjat.
Meski memiliki bentuk yang sama, dan sama-sama berasal dari Kabupaten Ogan Ilir. Keduanya mempunyai ciri khasnya tersendiri. Berikut, infoSumbagsel rangkum perbedaan antara Pindang Pegagan dan Pindang Meranjat. Yuk simak!
Pindang merupakan proses pengolahan ikan dengan cara merebusnya bersama garam dan bumbu tertentu untuk tujuan pengawetan. Di Sumatera Selatan, teknik ini berkembang pesat karena melimpahnya ikan air tawar dari Sungai Musi, terutama daerah Ogan Ilir dan wilayah rawa.
Pindang Pegagan berasal dari suku Pegagan, salah satu sub-suku di wilayah Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir. Suku ini secara historis mendiami sepanjang aliran Sungai Ogan, khususnya di wilayah seperti Tanjung Raja dan Pemulutan.
Dahulu, masyarakat Pegagan banyak yang hidup di atas rakit atau rumah panggung di pinggir sungai. Pola hidup yang dekat dengan air membuat mereka membutuhkan cara memasak yang praktis. Karena hidup berpindah atau di area rawa, bumbu yang digunakan adalah bahan-bahan dasar yang mudah dibawa dan disimpan, seperti cabai, bawang, dan terasi.
Berbeda dengan Pegagan yang merujuk pada cakupan suku yang luas, Pindang Meranjat merujuk secara spesifik pada sebuah desa, yaitu Desa Meranjat di Kecamatan Indralaya Selatan, Ogan Ilir.
Masyarakat Meranjat dikenal memiliki tradisi kuliner yang sangat kuat. Mereka melakukan eksperimen bumbu yang lebih kompleks dibandingkan masyarakat Pegagan.
Sejarah mencatat bahwa warga Meranjat adalah salah satu yang pertama kali mempopulerkan pindang sebagai komoditas komersial. Mereka membuka warung-warung pindang di pinggir jalan lintas Sumatera, yang membuat nama Pindang Meranjat dikenal luas hingga ke luar provinsi jauh sebelum Pindang Pegagan masuk ke restoran-restoran besar.
Kuah Pindang Pegagan memiliki ciri khas warna merah yang menyala namun terlihat jernih. Warna merah ini didapatkan dari cabai merah yang dihaluskan dengan sangat baik. Tekstur kuahnya encer, tidak berminyak, dan memberikan kesan bersih di mata. infoers tidak akan menemukan banyak potongan bumbu yang mengapung di sini, karena semua bumbu biasanya sudah menyatu sempurna dengan air rebusan.
Sedangkan, Pindang Meranjat memiliki warna yang lebih keruh, cenderung kuning kecokelatan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan kunyit dan terasi yang lebih dominan. Di dalam kuahnya, infoers akan melihat ramainya bahan tambahan seperti potongan nanas, irisan tomat, daun kemangi, hingga cabai rawit utuh yang dibiarkan mengapung.
Pindang Pegagan memiliki rasa yang didominasi oleh sensasi pedas dan asam. Rasa asamnya bukan berasal dari nanas, melainkan dari penggunaan asam jawa atau pemanis alami dari tomat. Karena bumbunya diulek halus, rasa pedasnya terasa merata di setiap seruputan kuah. Pindang ini sangat cocok dinikmati di siang hari
Berbeda dari Pindang Meranjat yang miliki rasa gurih yang kuat. Rahasianya terletak pada penggunaan terasi yang lebih terasa serta aroma daun kemangi yang sangat kuat. Selain itu, adanya potongan nanas memberikan kombinasi rasa manis, asam, dan gurih yang berlapis. Rasa pedasnya pun biasanya lebih keluar, karena ada tambahan cabai rawit burung yang sering kali digerus langsung di mangkuk.
Untuk cara pengolahan Pindang Pegagan, bumbu-bumbu seperti bawang merah, cabai merah, dan terasi diulek hingga benar-benar halus. Filosofinya adalah agar bumbu meresap hingga ke duri ikan tanpa mengganggu tekstur kuah yang bening. Pindang Pegagan asli jarang menggunakan bawang putih untuk menjaga keaslian aroma ikannya.
Untuk Pindang Meranjat sendiri, bumbu yang digunakan cenderung diulek kasar atau bahkan hanya diiris. Nanas dipotong-potong kecil dan dimasak bersamaan dengan ikan agar sarinya keluar dan mengentalkan kuah. Selain itu, serai dan lengkuas yang digeprek memberikan aroma woody yang kuat.
Untuk infoers yang belum memiliki kesempatan berkunjung dan mecicipi langsung hidangan ini, bisa membuatnya dirumah. Dilansir melalui buku Kuliner Palembang: Tradisi dan Identitas Masakan karya Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, dkk. Ada resep yang bisa kamu coba dirumah, berikut penjelasannya.
Karakteristik utama menurut buku ini, bumbu harus diulek halus, kuah merah jernih, dan rasa asam berasal dari asam jawa atau tomat.
Bahan-bahan:
500 gram Ikan Patin atau Baung (potong-potong).
1 liter air.
2 mata asam jawa (larutkan dengan sedikit air).
2 buah tomat merah (potong-potong).
1 batang serai (memarkan).
Garam dan gula pasir secukupnya.
Bumbu Halus:
8 butir bawang merah.
10 buah cabai merah keriting.
1/2 sdt terasi bakar.
Cara Membuat:
1. Didihkan air dalam panci. Masukkan bumbu halus, serai, dan garam. Masak hingga aroma mentah bumbu hilang.
2. Masukkan potongan ikan. Masak dengan api sedang agar kaldu ikan keluar.
3. Tambahkan larutan asam jawa dan gula pasir. Koreksi rasa.
4. Terakhir, masukkan potongan tomat. Masak sebentar hingga tomat agak layu, lalu angkat.
Karakteristik utama menurut buku ini, bumbu harus diulek kasar, menggunakan nanas, terasi yang lebih kuat, dan harum kemangi yang tajam.
Bahan-bahan:
500 gram Ikan Baung atau Patin.
1 liter air.
150 gram nanas (potong-potong kecil).
2 ikat daun kemangi (petik daunnya).
2 lembar daun salam.
1 jempol lengkuas (memarkan).
10 buah cabai rawit utuh (sesuai selera).
Bumbu Ulek Kasar:
8 butir bawang merah.
1 siung bawang putih (opsional).
6 buah cabai merah keriting.
2 cm kunyit (bakar sebentar).
1 sdt terasi matang.
Cara Membuat:
1. Didihkan air, masukkan bumbu ulek kasar, daun salam, lengkuas, dan cabai rawit utuh.
2. Masukkan potongan nanas ke dalam air mendidih. Nanas berfungsi memberikan rasa asam manis alami dan aroma buah.
3. Masukkan ikan. Kecilkan api agar bumbu meresap ke dalam daging ikan tanpa merusak teksturnya.
4. Tambahkan garam dan sedikit gula.
5. Sesaat sebelum diangkat, masukkan daun kemangi. Aduk sebentar hingga layu dan aromanya keluar, lalu segera matikan api.
Pindang Pegagan akan terasa jauh lebih enak bagi infoers yang mengutamakan kesegaran dengan sensasi asam yang tajam namun terasa ringan saat dimakan. Karakter kuahnya yang merah jernih tanpa banyak endapan bumbu memberikan kesan ringan saat disantap, sehingga tidak membuat cepat merasa kenyang atau enek. Rasa asam yang berasal dari asam jawa atau tomat merah memberikan kesegaran, maka dari itu hidangan ini cocok dinikmati siang hari.
Di sisi lain, Pindang Meranjat akan menjadi juara bagi infoers yang menyukai hidangan yang miliki rasa dan aroma yang berani. Pindang ini menawarkan rasa gurih yang lebih mantap berkat penggunaan terasi yang lebih terasa dan tambahan potongan nanas yang menciptakan rasa yang unik. Kehadiran daun kemangi yang melimpah memberikan wangi aromatik yang bisa menggugah selera, sementara tekstur bumbunya yang lebih kasar membuat rasanya lebih kaya akan rempah. Ini adalah pilihan tepat bagi penikmat kuliner yang menyukai makanan yang memiliki rasa meriah.
Pindang Pegagan cocok untuk infoers yang mencari kuliner ringan dan cocok untuk jadi santapan disiang hari. Sedangkan, Pindang Meranjat cocok untuk infoers yang lebih menyukai makanan yang asam dan unik.
Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, hidangan ini merupakan representasi terbaik dari identitas budaya Ogan Ilir, cara terbaik untuk menentukan mana yang paling enak adalah dengan mencicipi keduanya secara berdampingan dalam satu kesempatan makan.
Nah, itulah penjelasan mengenai perbedaan antara kedua pindang yang populer di Sumsel. Yuk jangan lupa mampir dan cicipi sendiri!
Artikel ini di tulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama
Asal Usul Pindang Pegagan dan Meranjat
Perbedaan Pindang Pegagan dan Meranjat
Resep Pindang Pegagan dan Meranjat
1. Resep Pindang Pegagan (Khas Ogan Ilir)
2. Resep Pindang Meranjat (Khas Desa Meranjat)
Untuk infoers yang belum memiliki kesempatan berkunjung dan mecicipi langsung hidangan ini, bisa membuatnya dirumah. Dilansir melalui buku Kuliner Palembang: Tradisi dan Identitas Masakan karya Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, dkk. Ada resep yang bisa kamu coba dirumah, berikut penjelasannya.
Karakteristik utama menurut buku ini, bumbu harus diulek halus, kuah merah jernih, dan rasa asam berasal dari asam jawa atau tomat.
Bahan-bahan:
500 gram Ikan Patin atau Baung (potong-potong).
1 liter air.
2 mata asam jawa (larutkan dengan sedikit air).
2 buah tomat merah (potong-potong).
1 batang serai (memarkan).
Garam dan gula pasir secukupnya.
Bumbu Halus:
8 butir bawang merah.
10 buah cabai merah keriting.
1/2 sdt terasi bakar.
Cara Membuat:
1. Didihkan air dalam panci. Masukkan bumbu halus, serai, dan garam. Masak hingga aroma mentah bumbu hilang.
2. Masukkan potongan ikan. Masak dengan api sedang agar kaldu ikan keluar.
3. Tambahkan larutan asam jawa dan gula pasir. Koreksi rasa.
4. Terakhir, masukkan potongan tomat. Masak sebentar hingga tomat agak layu, lalu angkat.
Karakteristik utama menurut buku ini, bumbu harus diulek kasar, menggunakan nanas, terasi yang lebih kuat, dan harum kemangi yang tajam.
Bahan-bahan:
500 gram Ikan Baung atau Patin.
1 liter air.
150 gram nanas (potong-potong kecil).
2 ikat daun kemangi (petik daunnya).
2 lembar daun salam.
1 jempol lengkuas (memarkan).
10 buah cabai rawit utuh (sesuai selera).
Bumbu Ulek Kasar:
8 butir bawang merah.
1 siung bawang putih (opsional).
6 buah cabai merah keriting.
2 cm kunyit (bakar sebentar).
1 sdt terasi matang.
Cara Membuat:
1. Didihkan air, masukkan bumbu ulek kasar, daun salam, lengkuas, dan cabai rawit utuh.
2. Masukkan potongan nanas ke dalam air mendidih. Nanas berfungsi memberikan rasa asam manis alami dan aroma buah.
3. Masukkan ikan. Kecilkan api agar bumbu meresap ke dalam daging ikan tanpa merusak teksturnya.
4. Tambahkan garam dan sedikit gula.
5. Sesaat sebelum diangkat, masukkan daun kemangi. Aduk sebentar hingga layu dan aromanya keluar, lalu segera matikan api.
Pindang Pegagan akan terasa jauh lebih enak bagi infoers yang mengutamakan kesegaran dengan sensasi asam yang tajam namun terasa ringan saat dimakan. Karakter kuahnya yang merah jernih tanpa banyak endapan bumbu memberikan kesan ringan saat disantap, sehingga tidak membuat cepat merasa kenyang atau enek. Rasa asam yang berasal dari asam jawa atau tomat merah memberikan kesegaran, maka dari itu hidangan ini cocok dinikmati siang hari.
Di sisi lain, Pindang Meranjat akan menjadi juara bagi infoers yang menyukai hidangan yang miliki rasa dan aroma yang berani. Pindang ini menawarkan rasa gurih yang lebih mantap berkat penggunaan terasi yang lebih terasa dan tambahan potongan nanas yang menciptakan rasa yang unik. Kehadiran daun kemangi yang melimpah memberikan wangi aromatik yang bisa menggugah selera, sementara tekstur bumbunya yang lebih kasar membuat rasanya lebih kaya akan rempah. Ini adalah pilihan tepat bagi penikmat kuliner yang menyukai makanan yang memiliki rasa meriah.
Pindang Pegagan cocok untuk infoers yang mencari kuliner ringan dan cocok untuk jadi santapan disiang hari. Sedangkan, Pindang Meranjat cocok untuk infoers yang lebih menyukai makanan yang asam dan unik.
Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, hidangan ini merupakan representasi terbaik dari identitas budaya Ogan Ilir, cara terbaik untuk menentukan mana yang paling enak adalah dengan mencicipi keduanya secara berdampingan dalam satu kesempatan makan.
Nah, itulah penjelasan mengenai perbedaan antara kedua pindang yang populer di Sumsel. Yuk jangan lupa mampir dan cicipi sendiri!
Artikel ini di tulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama







