Sumsel Luncurkan Health Tourism, Perkuat Layanan Kesehatan Lokal

Posted on

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menargetkan peluncuran program Sumatera Selatan Health Tourism pada akhir Januari 2026 sebagai upaya menahan laju masyarakat berobat ke luar negeri dengan mengoptimalkan layanan kesehatan unggulan di daerah lokal sendiri. Program ini dibahas dalam rapat yang dipimpin langsung Gubernur Sumsel dan melibatkan perangkat daerah terkait, rumah sakit, serta pemangku kepentingan pariwisata, Senin (12/1/2026).

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sumsel, Apriyadi, mengatakan bahwa Gubernur Sumsel melihat Health Tourism sebagai potensi besar karena selama ini animo masyarakat berobat ke luar negeri sangat tinggi, padahal fasilitas serupa sudah tersedia di Sumsel.

“Rumah sakit di Sumsel sebenarnya sudah mampu melayani MCU dan tindakan jantung. Ini potensi besar yang belum tergarap maksimal karena kurangnya promosi dan keterbukaan informasi,” kata Apriyadi, Senin (12/1/2026).

Ia menekankan bahwa keberhasilan Health Tourism sangat bergantung pada koordinasi lintas sektor, terutama antara rumah sakit, biro perjalanan, dan pelaku pariwisata. Pemerintah daerah, menurutnya, tidak bisa melakukan promosi layanan secara langsung, sehingga peran travel agent dan tour guide menjadi kunci dalam mengemas paket layanan kesehatan secara transparan.

“Paketnya nanti bukan hanya layanan medis, tapi juga hotel, transportasi, dan kepastian waktu serta biaya. Seperti yang selama ini dilakukan negara lain, tapi sekarang kita lakukan di Sumsel,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, Pemprov Sumsel akan menggelar rapat koordinasi besar yang melibatkan seluruh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, direktur rumah sakit, serta biro perjalanan untuk menyatukan komitmen dan menyiapkan sistem promosi terpadu menjelang peluncuran resmi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Trisnawarman, menjelaskan bahwa Health Tourism tahap awal difokuskan untuk memperkuat layanan kesehatan di dalam daerah, khususnya melalui Rumah Sakit Siti Fatimah Palembang sebagai brand utama pertama. Menurutnya, pesan Gubernur jelas, yakni memastikan masyarakat Sumsel tidak perlu lagi mencari layanan kesehatan ke luar negeri karena fasilitas di daerah sudah memadai.

“Setelah launching nanti, seluruh istilah dan sistem terkait Health Tourism sudah mulai berlaku. Fokus kita saat ini adalah mempertahankan masyarakat Sumsel agar berobat di rumah sakit kita sendiri, bukan langsung menarik pasien luar negeri,” ujar Trisnawarman.

Trisnawarman menambahkan, mekanisme Health Tourism berbeda dengan layanan BPJS karena bersifat layanan berbayar atau premium bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan ekstra dengan standar internasional. Layanan tersebut akan dikombinasikan dengan potensi wisata dan wellness yang ada di Sumatera Selatan.

Untuk tahap awal, RS Siti Fatimah menyiapkan tiga layanan unggulan yang sedang dalam proses sertifikasi dari Kementerian Kesehatan, yakni layanan jantung, ortopedi, dan medical check-up (MCU). Ke depan, layanan tersebut akan diperluas dan diikuti oleh rumah sakit lain di seluruh Sumatera Selatan yang dinilai siap dari sisi sarana dan prasarana.

“Rumah sakit lain akan kita dorong untuk mengikuti, termasuk layanan-layanan kesehatan dan wellness lain seperti kebidanan, bayi tabung, hingga layanan tradisional yang sudah berizin. Semua ini akan menjadi bagian dari ekosistem Health Tourism,” jelasnya.

Pemprov Sumsel berharap, melalui Health Tourism, perputaran ekonomi dapat tetap berada di Sumatera Selatan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan daerah. Terutama membantu masyarakat agar tidak perlu lagi jauh-jauh ke luar negeri untuk berobat.

Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.