Di balik keindahan pantainya, budaya Belitung tumbuh dari kehidupan masyarakat pesisir yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, adat istiadat, serta penghormatan terhadap alamnya. Nilai-nilai tersebut diwariskan secara turun-temurun, kini beragam tradisi dan kesenian khas daerah ini tetap dijaga dan dilestarikan.
Keragaman budaya Belitung tercermin dalam berbagai tradisi dan kesenian, di antaranya Muang Jong, Maras Taun, Nirok Nanggok, Lesong Panjang, Antu Bubu, Bripat Beregong, Dul Mulok, Tari Campak, Seni Musik Betiong, Tari Mendulang Timah, dan Tari Sekapur Sirih.
Setiap budaya mengandung nilai filosofis yang mencerminkan kehidupan masyarakat Belitung, menunjukan kebersamaan, rasa syukur dan keharmonisan sosial. Berikut 11 budaya Belitung mulai dari tradisi hingga kesenian yang telah dirangkum oleh infoSumbagsel, yuk simak!
Dilansir jurnal berjudul Tradisi Adat Muang Jong Suku Sawang di Belitung Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Oleh Therta dkk, Muang Jong atau Buang Jong merupakan sebuah ritual adat asal Suku Sawang yaitu suku asli Belitung yang dikenal sangat bergantung pada laut.
Tradisi ini berupa prosesi larung laut dengan melepaskan jung atau perahu kecil ke tengah laut sebagai bentuk persembahan dan doa keselamatan bagi masyarakat pesisir. Sebelum jong dilepaskan, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan ritual adat dengan menempatkan berbagai sesaji di dalam perahu kecil.
Dilengkapi juga dengan ancak,yakni susunan kerangka bambu berbentuk rumah-rumahan. Ritual ini sendiri dimaknai sebagai suatu bentuk penghormatan kepada penguasa laut sekaligus permohonan perlindungan, keselamatan, dan keberkahan saat melaut mencari ikan.
Tradisi Muang Jong biasanya digelar setiap tahun yakni kisaran bulan Agustus hingga November, bertepatan dengan datangnya musim angin barat yang dikenal berombak besar. Prosesi ini berlangsung selama tiga hari tiga malam dan diselenggarakan di Pantai Mudong.
Usai pelarungan jong, masyarakat Suku Sawang juga menjalani pantangan melaut selama beberapa hari sebagai bagian dari penghormatan terhadap ritual adat tersebut.
Dilansir Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Maras Taun merupakan upacara adat untuk para petani di Belitung sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen padi.
Tradisi ini digelar setahun sekali setelah musim panen dan menjadi momen kebersamaan masyarakat desa yang dipimpin oleh dukun kampung atau kepala kampung untuk memanjatkan doa keselamatan bagi masyarakat.
Upacara Maras Taun memiliki nilai religius, gotong royong, sosial dan seni. Rangkaian kegiatannya berlangsung selama tiga hingga tujuh hari, yang diisi dengan berbagai pertunjukan tradisional seperti Tari Campak, Beripat Beregong, permainan lesung panjang, serta khas lainnya.
Puncak perayaan ini ditandai dengan pemotongan Lepat Besar yaitu makanan tradisional berbahan ketan yang berukuran raksasa yang kemudian dibagikan bersama ratusan lepat kecil kepada masyarakat dan pengunjung.
Meski tidak diketahui secara pasti sejak kapan tradisi ini dimulai, kegiatannya tetap menjadi salah satu budaya paling populer dan dinantikan di Belitung. Biasanya digelar antara April hingga Juni, upacara ini juga terbuka untuk umum dan sering disamakan dengan tradisi selamatan desa di Jawa.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Selain sebagai bentuk rasa syukur atas panen, Maras Taun juga menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus daya tarik wisata budaya khas Belitung.
Tradisi Nirok Nanggok merupakan adat khas masyarakat Desa Kembiri, Kecamatan Membalong, di bagian selatan Pulau Belitung. Tradisi ini biasanya digelar saat musim kemarau panjang yaitu antara Agustus hingga Oktober, ketika debit air surut dan ikan mudah ditemukan.
Penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan alat tradisional berupa tirok, tongkat kayu bermata tombak, tanggok dan jala kecil dari rotan.
Masyarakat akan turun secara bersama-sama ke sungai untuk menangkap ikan. Meski terlihat sederhana prosesi ini juga diawali dengan serangkaian ritual adat yang dipimpin oleh seorang pemuka desa juga dengan sejumlah aturan sakral yang wajib dipatuhi.
Nirok Nanggok tidak hanya bertujuan untuk mencari ikan, tapi juga sebagai sarana mempererat kebersamaan sekaligus menjaga kelestarian ekosistem sungai. Penangkapan ikan ini juga dilakukan di lokasi yang telah ditentukan, dan sebagian ikan wajib dilepas kembali sebagai bentuk pelestarian alam.
Kearifan lokal inilah yang menjadikan Nirok Nanggok sebagai atraksi wisata budaya yang selalu dinantikan, bahkan menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah di Belitung untuk menyaksikannya secara langsung.
Lesong Panjang merupakan tradisi masyarakat Belitung yang digelar setelah musim panen padi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini dilakukan dalam bentuk permainan musik tradisional dengan menggunakan lesung dan alu yang terbuat dari kayu.
Ketukan palu ke lesung menghasilkan bunyi berirama yang berbeda-beda, sehingga menciptakan harmoni suara yang khas dan menarik, tergantung pola pukulan yang dimainkan secara bergantian oleh para peserta.
Lesong Panjang juga memiliki makna yang mendalam mengenai nilai gotong-royong dan kebersamaan. Irama yang tercipta melambangkan bahwa kerja sama yang terorganisir akan menghasilkan kebaikan, sementara gerakan para pemain mencerminkan nilai saling ketergantungan dalam kehidupan bermasyarakat.
Tradisi ini juga diiringi nyanyian puji-pujian kepada Sang Pencipta, sekaligus menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat solidaritas antar warga.
Dikutip laman Belajar Budaya, Antu Bubu merupakan kesenian tradisional khas Belitung Timur, khususnya dari Desa Lalang, yang kental akan unsur mistis. Nama Antu Bubu berasal dari kata antu (hantu) dan bubu, alat tradisional penangkap ikan.
Kesenian ini berangkat dari kisah rakyat tentang roh pencuri ikan yang gentayangan di sungai, lalu dijadikan media hiburan sekaligus pengingat moral agar masyarakat tidak mengambil hak orang lain dan selalu ingat kematian.
Pertunjukan Antu Bubu sendiri menggunakan bubu yang dibuat dari bahan-bahan alami seperti bambu atau pelepah nira, rotan, batok kelapa, kayu dan kain kafan. Sebelum dipentaskan, bubu terlebih dahulu di baca mantra oleh pawang atau dukun kampong melalui sejumlah ritual khusus dengan kemenyan agar roh masuk ke dalamnya.
Kemenyan tidak hanya dipercaya sebagai bagian dari ritual adat, tetapi juga memberi efek yang menenangkan bagi penonton dan pemain selama pertunjukan berlangsung. Dalam kegiatan pementasannya, seorang peserta akan menjadi lawan Antu Bubu dengan mencoba mengendalikan dan merusak bubu yang telah dimantrai.
Pertunjukan dipimpin oleh pawang dan memiliki aturan ketat, termasuk batas waktu dan syarat pemain yang harus berani serta berpengalaman. Antu Bubu tidak hanya menyuguhkan sensasi mistis, tetapi juga menjadi warisan budaya yang mengandung pesan moral serta daya tarik wisata budaya khas Belitung.
Selain Antu Bubu di Belitung juga ada seni budaya khas lainnya, yakni Bripat Beregong yang tidak kalah unik. Bripat Beregong merupakan tradisi yang berbentuk permainan bela diri tradisional.
Nama Nya sendiri berasal dari kata bripat yang berarti memukul atau mencambuk, serta beregong yang merujuk pada bunyi gong yang digunakan sebagai iringan permainan.
Dalam pertunjukannya sendiri, dua pemain saling beradu ketangkasan dengan menggunakan alat pukul dari rotan dengan diiringi alunan music gong yang menambah semarak suasana.
Permainan ini biasanya digelar di sebuah balai khusus yang bernama balai peregangan yang dibangun cukup tinggi, sehingga dalam pelaksanaannya tentu memerlukan persiapan teknis yang tidak mudah.
Hal ini yang membuat tradisi ini kini mulai jarang dilakukan, meski masih dipentaskan pada momen tertentu. Meski terlihat sedikit keras dan susah permainan ini tidak bertujuan melukai, melainkan sebagai sarana mempererat persaudaraan dan memperkuat hubungan antarkampung melalui seni dan sportivitas.
Dul Mulok merupakan kesenian khas dari Belitung, yang bermula dari tahun 1940-an dari gagasan tokoh Toh Juhek seorang penyair. Ia terinspirasi untuk menuangkan syair ke dalam bentuk drama, sambutan yang antusias dari masyarakat membuat Tok Juhek melatih puluhan pemain dengan cerita pertama yang dipentaskan berjudul Abdul Mulok yang kemudian menjadi nama kesenian ini.
Dalam pementasannya, Dul Mulok mengangkat kisah-kisah dari syair lama seperti syair Abdul Mulok, Syair Juragan Budiman, Syar Siti Zubaida, serta cerita kerajaan lokal yang dipadukan dengan unsur komedi.
Pertunjukan ini diiringi alat music tradisonal seperti gendang, gong panjang, dan biola, semenara para pemain mengenakan busana adat. Dialog yang lucu dan ekspresi khas menjadikan kesenian ini sebagai hiburan rakyat selalu dinantikan dan mampu menarik perhatian penonton dari berbagai kalangan.
Dilansir jurnal berjudul Bentuk Penyajian Musik Campak Dalong di Desa Baskara Bakti Kecamatan Namang Kabupaten Bangka Tengah Oleh Dewi Marlina dkk, Tari Campak merupakan kesenian tradisional masyarakat Belitung Timur yang awalnya berfungsi sebagai hiburan setelah bekerja di kebun.
Tarian ini memiliki ciri khas tersendiri yang terletak pada gerakan tari yang diiringi pantun berbalas secara spontan sebagai lagu pengiring. Pada mulanya, gerakan Tari Campak bersifat improvisatif mengikuti kreativitas para penarinya tanpa menggunakan pola yang baku.
Seiring perkembangan zaman, Tari Campak kemudian dikembangkan oleh K.A.Marjilin tanpa menghilangkan esensi aslinya. Pengembangan ini diciptakan melalui adanya pendirian Sanggar Genayun Merah sekitar tahun 2005 sebagai wadah pelestarian seni tradisional Belitung.
Tari tradisional ini kini disajikan secara berpasangan dengan struktur pertunjukan yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni Maras, Pecah Tari dan Bhatara, serta pantun.
Tari Campak kini sering ditampilkan dalam upacara adat Maras Taun, penyambutan tamu, juga berbagai kegiatan kebudayaan baik tingkat daerah maupun nasional. Didukung juga dengan riasan yang sederhana dan busana tradisional khas Belitung, serta iringan music seperti biola, gendang, tawak-tawak, dan akordeon.
Pantun yang dilantunkan juga menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Belitung, sehingga menjadi simbol kesederhanaan dan kehangatan budaya lokal.
Dilansir Perpustakaan Budaya Indonesia, Betiong berasal dari kata Ketiong yang merujuk pada suara burung beo. Nama ini muncul karena saat gendang dimainkan, bunyinya seperti “tiong-tiong”. Kesenian Betiong merupakan seni berbalas pantun khas Belitung yang menggunakan bahasa Belantu, yakni bahasa tertua di Belitung dengan logat Melayu.
Dulunya Betiong sangat populer dan kerap ditampilkan dalam upacara adat seperti Maras Taun, namun kini sering dipentaskan dalam acara pernikahan, khitanan, dan berbagai hajatan lainnya.
Keunikan Betiong terletak pada pantunnya yang disampaikan secara spontan, dengan isi yang beragam mulai dari sindiran hingga percintaan. Dalam pertunjukannya para pemain harus mampu untuk membalas pantun dari lawan secara langsung, jika tidak, ia dinyatakan kalah dan digantikan.
Karena menuntut kepiawaian berbahasa dan kreativitas tinggi, Betiong dianggap sebagai kesenian istimewa yang tidak semua orang mampu melakukannya.
Tari Mendulang Timah menampilkan gerakan-gerakan atraktif yang terinspirasi dari aktivitas mendulang timah, para penari akan melakukan berbagai gerakan yakni, membentuk lingkaran, berbaris, hingga bergerak serempak.
Satu persatu penari berlari ke area pertunjukan dengan tubuh yang dilumuri lumpur, sambil membawa dulang dan menirukan proses mendulang timah. Kekompakan gerakan dengan ekspresi yang ceria membuat tarian ini terasa hidup dan mudah dinikmati.
Tarian ini dibawakan oleh anak-anak sebagai representasi generasi muda yang mengenal sejarah dan kehidupan masyarakat penambang. Gerakan yang dinamis menggambarkan kerja keras, kebersamaan, dan semangat pantang menyerah, sementara raut wajah penari memancarkan kegembiraan, menjadikan pertunjukan terasa hangat dan komunikatif bagi penonton.
Pada Belitung Brach Festival yang digelar Mei lalu, sekitar 20 anak menampilkan Tari Mendulang Timah di Pantai Tanjung Pendam. Penampilan mereka sukses mencuri perhatian pengunjung dan menghidupkan suasana festival.
Selain menghibur, tarian ini juga berfungsi sebagai media edukasi budaya, mengenalkan aktivitas mendulang timah sebagai bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Kepulauan Bangka Belitung.
Berdasarkan kanal Youtube Sanggar Marga Gemilang Grismantara Belitung, Tari Sekapur Sirih merupakan tarian selamat datang khas Belitung yang ditampilkan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu penting dalam berbagai kegiatan besar.
Dalam tarian ini, para penari membawa wadah berisi sirih sebagai simbol penghormatan, persahabatan, dan penerimaan. Gerakan penari yang lincah ke kanan dan kiri diiringi musik tradisional dambus menciptakan suasana rancak, seolah memberi isyarat selamat datang kepada para tamu yang hadir.
Biasanya tarian ini dibawakan oleh sekitar 10 hingga 12 penari, dengan dua penari laki-laki yang berada di baris belakang. Dalam beberapa gerakannya, penari menaburkan bunga sebagai simbol penolak bala, lalu mendekati tamu kehormatan yang ada di barisan depan untuk menyerahkan sirih secara langsung.
Sebagian tari penyambutan, Sekapur Sirih selalu mendapat sambutan hangat dan menjadi simbol keramahan masyarakat Belitung.
Itulah 11 budaya, mulai dari tradisi hingga kesenian khas Belitung, yang wajib infoers tahu. Semoga bermanfaat, ya!
Artikel ini ditulis oleh Rika Amelia Peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker info.com
11 Budaya Belitung yang Wajib Diketahui
1. Muang Jong
2. Maras Taun
3. Nirok Nanggok
4. Lesong Panjang
5. Antu Bubu
6. Beripat Beregong
7. Dul Mulok
8. Tari Campak
9. Seni Musik Betiong
10. Tari Mendulang Timah
11. Tari Sekapur Sirih
Lesong Panjang merupakan tradisi masyarakat Belitung yang digelar setelah musim panen padi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini dilakukan dalam bentuk permainan musik tradisional dengan menggunakan lesung dan alu yang terbuat dari kayu.
Ketukan palu ke lesung menghasilkan bunyi berirama yang berbeda-beda, sehingga menciptakan harmoni suara yang khas dan menarik, tergantung pola pukulan yang dimainkan secara bergantian oleh para peserta.
Lesong Panjang juga memiliki makna yang mendalam mengenai nilai gotong-royong dan kebersamaan. Irama yang tercipta melambangkan bahwa kerja sama yang terorganisir akan menghasilkan kebaikan, sementara gerakan para pemain mencerminkan nilai saling ketergantungan dalam kehidupan bermasyarakat.
Tradisi ini juga diiringi nyanyian puji-pujian kepada Sang Pencipta, sekaligus menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat solidaritas antar warga.
Dikutip laman Belajar Budaya, Antu Bubu merupakan kesenian tradisional khas Belitung Timur, khususnya dari Desa Lalang, yang kental akan unsur mistis. Nama Antu Bubu berasal dari kata antu (hantu) dan bubu, alat tradisional penangkap ikan.
Kesenian ini berangkat dari kisah rakyat tentang roh pencuri ikan yang gentayangan di sungai, lalu dijadikan media hiburan sekaligus pengingat moral agar masyarakat tidak mengambil hak orang lain dan selalu ingat kematian.
Pertunjukan Antu Bubu sendiri menggunakan bubu yang dibuat dari bahan-bahan alami seperti bambu atau pelepah nira, rotan, batok kelapa, kayu dan kain kafan. Sebelum dipentaskan, bubu terlebih dahulu di baca mantra oleh pawang atau dukun kampong melalui sejumlah ritual khusus dengan kemenyan agar roh masuk ke dalamnya.
Kemenyan tidak hanya dipercaya sebagai bagian dari ritual adat, tetapi juga memberi efek yang menenangkan bagi penonton dan pemain selama pertunjukan berlangsung. Dalam kegiatan pementasannya, seorang peserta akan menjadi lawan Antu Bubu dengan mencoba mengendalikan dan merusak bubu yang telah dimantrai.
Pertunjukan dipimpin oleh pawang dan memiliki aturan ketat, termasuk batas waktu dan syarat pemain yang harus berani serta berpengalaman. Antu Bubu tidak hanya menyuguhkan sensasi mistis, tetapi juga menjadi warisan budaya yang mengandung pesan moral serta daya tarik wisata budaya khas Belitung.
Selain Antu Bubu di Belitung juga ada seni budaya khas lainnya, yakni Bripat Beregong yang tidak kalah unik. Bripat Beregong merupakan tradisi yang berbentuk permainan bela diri tradisional.
Nama Nya sendiri berasal dari kata bripat yang berarti memukul atau mencambuk, serta beregong yang merujuk pada bunyi gong yang digunakan sebagai iringan permainan.
Dalam pertunjukannya sendiri, dua pemain saling beradu ketangkasan dengan menggunakan alat pukul dari rotan dengan diiringi alunan music gong yang menambah semarak suasana.
Permainan ini biasanya digelar di sebuah balai khusus yang bernama balai peregangan yang dibangun cukup tinggi, sehingga dalam pelaksanaannya tentu memerlukan persiapan teknis yang tidak mudah.
Hal ini yang membuat tradisi ini kini mulai jarang dilakukan, meski masih dipentaskan pada momen tertentu. Meski terlihat sedikit keras dan susah permainan ini tidak bertujuan melukai, melainkan sebagai sarana mempererat persaudaraan dan memperkuat hubungan antarkampung melalui seni dan sportivitas.
Dul Mulok merupakan kesenian khas dari Belitung, yang bermula dari tahun 1940-an dari gagasan tokoh Toh Juhek seorang penyair. Ia terinspirasi untuk menuangkan syair ke dalam bentuk drama, sambutan yang antusias dari masyarakat membuat Tok Juhek melatih puluhan pemain dengan cerita pertama yang dipentaskan berjudul Abdul Mulok yang kemudian menjadi nama kesenian ini.
Dalam pementasannya, Dul Mulok mengangkat kisah-kisah dari syair lama seperti syair Abdul Mulok, Syair Juragan Budiman, Syar Siti Zubaida, serta cerita kerajaan lokal yang dipadukan dengan unsur komedi.
Pertunjukan ini diiringi alat music tradisonal seperti gendang, gong panjang, dan biola, semenara para pemain mengenakan busana adat. Dialog yang lucu dan ekspresi khas menjadikan kesenian ini sebagai hiburan rakyat selalu dinantikan dan mampu menarik perhatian penonton dari berbagai kalangan.
4. Lesong Panjang
5. Antu Bubu
6. Beripat Beregong
7. Dul Mulok
Dilansir jurnal berjudul Bentuk Penyajian Musik Campak Dalong di Desa Baskara Bakti Kecamatan Namang Kabupaten Bangka Tengah Oleh Dewi Marlina dkk, Tari Campak merupakan kesenian tradisional masyarakat Belitung Timur yang awalnya berfungsi sebagai hiburan setelah bekerja di kebun.
Tarian ini memiliki ciri khas tersendiri yang terletak pada gerakan tari yang diiringi pantun berbalas secara spontan sebagai lagu pengiring. Pada mulanya, gerakan Tari Campak bersifat improvisatif mengikuti kreativitas para penarinya tanpa menggunakan pola yang baku.
Seiring perkembangan zaman, Tari Campak kemudian dikembangkan oleh K.A.Marjilin tanpa menghilangkan esensi aslinya. Pengembangan ini diciptakan melalui adanya pendirian Sanggar Genayun Merah sekitar tahun 2005 sebagai wadah pelestarian seni tradisional Belitung.
Tari tradisional ini kini disajikan secara berpasangan dengan struktur pertunjukan yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni Maras, Pecah Tari dan Bhatara, serta pantun.
Tari Campak kini sering ditampilkan dalam upacara adat Maras Taun, penyambutan tamu, juga berbagai kegiatan kebudayaan baik tingkat daerah maupun nasional. Didukung juga dengan riasan yang sederhana dan busana tradisional khas Belitung, serta iringan music seperti biola, gendang, tawak-tawak, dan akordeon.
Pantun yang dilantunkan juga menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Belitung, sehingga menjadi simbol kesederhanaan dan kehangatan budaya lokal.
Dilansir Perpustakaan Budaya Indonesia, Betiong berasal dari kata Ketiong yang merujuk pada suara burung beo. Nama ini muncul karena saat gendang dimainkan, bunyinya seperti “tiong-tiong”. Kesenian Betiong merupakan seni berbalas pantun khas Belitung yang menggunakan bahasa Belantu, yakni bahasa tertua di Belitung dengan logat Melayu.
Dulunya Betiong sangat populer dan kerap ditampilkan dalam upacara adat seperti Maras Taun, namun kini sering dipentaskan dalam acara pernikahan, khitanan, dan berbagai hajatan lainnya.
Keunikan Betiong terletak pada pantunnya yang disampaikan secara spontan, dengan isi yang beragam mulai dari sindiran hingga percintaan. Dalam pertunjukannya para pemain harus mampu untuk membalas pantun dari lawan secara langsung, jika tidak, ia dinyatakan kalah dan digantikan.
Karena menuntut kepiawaian berbahasa dan kreativitas tinggi, Betiong dianggap sebagai kesenian istimewa yang tidak semua orang mampu melakukannya.
Tari Mendulang Timah menampilkan gerakan-gerakan atraktif yang terinspirasi dari aktivitas mendulang timah, para penari akan melakukan berbagai gerakan yakni, membentuk lingkaran, berbaris, hingga bergerak serempak.
Satu persatu penari berlari ke area pertunjukan dengan tubuh yang dilumuri lumpur, sambil membawa dulang dan menirukan proses mendulang timah. Kekompakan gerakan dengan ekspresi yang ceria membuat tarian ini terasa hidup dan mudah dinikmati.
Tarian ini dibawakan oleh anak-anak sebagai representasi generasi muda yang mengenal sejarah dan kehidupan masyarakat penambang. Gerakan yang dinamis menggambarkan kerja keras, kebersamaan, dan semangat pantang menyerah, sementara raut wajah penari memancarkan kegembiraan, menjadikan pertunjukan terasa hangat dan komunikatif bagi penonton.
Pada Belitung Brach Festival yang digelar Mei lalu, sekitar 20 anak menampilkan Tari Mendulang Timah di Pantai Tanjung Pendam. Penampilan mereka sukses mencuri perhatian pengunjung dan menghidupkan suasana festival.
Selain menghibur, tarian ini juga berfungsi sebagai media edukasi budaya, mengenalkan aktivitas mendulang timah sebagai bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Kepulauan Bangka Belitung.
Berdasarkan kanal Youtube Sanggar Marga Gemilang Grismantara Belitung, Tari Sekapur Sirih merupakan tarian selamat datang khas Belitung yang ditampilkan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu penting dalam berbagai kegiatan besar.
Dalam tarian ini, para penari membawa wadah berisi sirih sebagai simbol penghormatan, persahabatan, dan penerimaan. Gerakan penari yang lincah ke kanan dan kiri diiringi musik tradisional dambus menciptakan suasana rancak, seolah memberi isyarat selamat datang kepada para tamu yang hadir.
Biasanya tarian ini dibawakan oleh sekitar 10 hingga 12 penari, dengan dua penari laki-laki yang berada di baris belakang. Dalam beberapa gerakannya, penari menaburkan bunga sebagai simbol penolak bala, lalu mendekati tamu kehormatan yang ada di barisan depan untuk menyerahkan sirih secara langsung.
Sebagian tari penyambutan, Sekapur Sirih selalu mendapat sambutan hangat dan menjadi simbol keramahan masyarakat Belitung.
Itulah 11 budaya, mulai dari tradisi hingga kesenian khas Belitung, yang wajib infoers tahu. Semoga bermanfaat, ya!
Artikel ini ditulis oleh Rika Amelia Peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker info.com
