Secara geografis Kota Palembang dipisahkan oleh Sungai Musi, masyarakat yang berada di sebelah utara dikenal dengan sebutan hilir, sedangkan sebelah selatan disebut hulu.
Dulunya, kawasan hilir disinggahi oleh Kesultanan Palembang dan jadi pusat pemerintahan dan ulu lebih banyak masyarakat pendatang.
Secara budaya, hilir dikenal sebagai kawasan yang lebih modern karena berada di pusat Kota Palembang, sebaliknya hulu lebih masyarakat tradisional sebab masyarakat jarang berpindah, jadi orang-orang asli Palembang biasanya banyak tinggal di daerah hulu.
Dilansir melalui buku Sejarah dan Kebudayaan karya Farida Wargadalem, perbedaan yang terjadi antara hilir dan hulu ini menimbulkan dinamika unik bagi kalangan masyarakat. Karakter ini terbentuk karena adanya pemisah antara keduanya yaitu Jembatan Ampera.
Penasaran dengan perbedaan hulu dan hilir di Palembang. Berikut infoSumbagsel rangkum penjelasannya untuk kamu. Yuk simak!
Kawasan hilir secara tradisional merupakan daerah yang menjadi tempat tinggal bagi raja-raja dan bangsawan yang ada di Kesultanan Palembang, dari dulu hingga sekarang, daerah ini menjadi pusat kota dan jalur perdagangan, maka dari itu hilir juga menjadi tempat tinggal bagi kelompok etnis seperti Cina, Arab dan lain-lain.
Karena berada di pusat kota, beberapa Ikon Kota Palembang berada disini, seperti Masjid Agung Mahmud Badaruddin, Benteng Kuto Besak, Pusat perbelanjaan utama hingga pusat-pusat modernisasi lainnya.
Wilayah hilir meliputi kecamatan-kecamatan seperti Kecamatan Ilir Barat I, Ilir Barat II, Ilir Timur I dan Ilir Timur II. biasanya daerah ini masih padat dengan aktivitas perdagangan karena posisinya berada di tengah-tengah Kota.
Kawasan hulu berada di seberang selatan daerah hilir. Dulunya kawasan ini banyak dihuni oleh orang-orang pendatang dari luar Kota Palembang. Sebelum adanya pembangunan jembatan Ampera, masyarakat hulu sulit untuk mengakses daerah hilir, sebab harus menyeberang menggunakan perahu atau ketek.
Pembangunan Jembatan Ampera dilakukan pada tahun 1960-an, setelah adanya akses ini, masyarakat di kawasan hulu mulai bermigrasi dan bekerja di daerah hilir. Meski sudah memiliki jalur penghubung, daerah hulu hingga saat ini masih mempertahankan konsep tradisionalnya, ditandai dengan budaya masyarakat yang masih kental dan rumah-rumah warga yang masih berdinding kayu serta bermodel panggung.
Wilayah hulu meliputi daerah yang berada di sisi selatan Sungai Musi yang terbagi menjadi beberapa bagian seperti Seberang Ulu I, Seberang Ulu II, Jakabaring, Silaberanti, dan Kertapati.
Asal usul pembagian kawasan di Palembang berkaitan erat dengan Sungai Musi yang membelahnya menjadi 2 bagian yaitu hilir sebagai pusat pemerintahan dan hulu sebagai pusat masyarakat tradisional.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Pembagian ini telah terjadi sejak zaman Kerajaan sriwijaya pada Abad ke 7 hingga 13 Masehi, Wilayah hilir dikenal sebagai Sabokingking atau pusat pemerintahan dan hulu dikenal sebagai pusat keagamaan sebab berada di Wilayah Bukit Siguntang.
Selain itu, pada zaman Kolonial Belanda, kaum kulit putih secara resmi membagi keresidenan menjadi Afdeling Palembang hilir dan Afdeling Palembang hulu pada tahun 1921 untuk memperkuat kekuasaannya secara administratif.
Mengutip melalui Jurnal yang berjudul Eksistensi Jembatan Ampera Terhadap Perkembangan Sosial, Budaya, dan Ekonomi Masyarakat Ulu Palembang Tahun 1950-2010 oleh Kabib Sholeh Dkk. Secara umum kondisi masyarakat hilir dan hulu baik secara sosial, budaya, ekonomi dan politik mengalami perbedaan yang signifikan.
Masyarakat daerah hilir memiliki budaya yang lebih terbuka terhadap budaya luar, hal ini dibuktikan dengan banyaknya pedagang yang berlalu-lalang, karena hal ini lah daerah hilir terkesan lebih maju dibandingkan dengan hulu yang lebih tertutup.
Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, alasan pertama, karena dalam sejarahnya wilayah hilir sudah menjadi pusat perekonomian dan politik bagi Raja-raja terdahulu yaitu dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang hingga Kolonial Belanda, oleh karena itu masyarakat hilir lebih mudah menerima budaya asing dan menjadi masyarakat modern.
Alasan kedua karena wilayah hilir merupakan kawasan bertemunya para pedagang asing dengan masyarakat setempat, para pedagang dari pedalaman biasanya akan bertemu dengan pedagang dari luar yang membawa budaya baru dan menyebarkannya ke seluruh masyarakat. Hal ini juga yang menyebabkan daerah hilir memiliki pola pikir yang jauh lebih modern dibandingkan masyarakat hulu
Selain itu, alasan mengapa daerah hulu lebih tradisional karena tidak akses untuk pergi ke kota, sebab untuk menyeberang ke sebelah Utara Kota Palembang, masyarakat harus menggunakan perahu untuk mendapatkan keperluan, untuk menyeberangi Sungai Musi membutuhkan uang yang tidak sedikit, sebab jaraknya yang lumayan jauh. Hal inilah yang mengakibatkan adanya ketimpangan yang sangat jelas antara hulu dan hilir.
Namun, setelah atas permintaan masyarakat, pada tahun 1961 Jembatan Ampera dibangun, masyarakat Ulu mulai mengadopsi budaya-budaya baru yang didapat dari hilir, Keunggulannya daerah hulu adalah masih banyak jejak keaslian orang-orang Palembang. Dengan tata kota yang masih tradisional dan biasanya orang-orang dengan gelar bangsawan banyak mendiami kawasan ini.
Pengaruh Jembatan Ampera terhadap kemajuan masyarakat Ulu tidak berlangsung instan.Bagi masyarakat hulu, dengan adanya Jembatan Ampera merupakan akses untuk menyeberang dan melihat secara langsung kondisi masyarakat hilir yang sudah maju. Sehingga secara berkala masyarakat hulu mulai bangkit dari ketertinggalan.
Salah satu buktinya, sudah banyak universitas yang terbuka di kawasan hulu, jalur LRT atau kereta cepat hingga pusat olahraga yang bertaraf internasional di jakabaring City.
Dari sini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Jembatan Ampera berperan sangat penting dalam perkembangan masyarakat hulu, sebelum adanya penghubung,hulu mengalami ketertinggalan dan setelah adanya Jembatan, masyarakat yang dulu sempat tersingkir kini mulai hidup berdampingan dan saling membutuhkan satu sama lain. Masyarakat hilir dengan modernisasinya dan Masyarakat hulu dengan karakter yang tradisional.
Itulah penjelasan singkat yang bisa infoSumbagsel muat terkait hulu dan hilir. Sampai Jumpa di informasi berikutnya. Semoga Bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama.
Apa Itu Hilir?
Apa Itu Hulu?
Asal Usul Hilir dan Hulu
Perbedaan Hilir dan Hulu
Mengutip melalui Jurnal yang berjudul Eksistensi Jembatan Ampera Terhadap Perkembangan Sosial, Budaya, dan Ekonomi Masyarakat Ulu Palembang Tahun 1950-2010 oleh Kabib Sholeh Dkk. Secara umum kondisi masyarakat hilir dan hulu baik secara sosial, budaya, ekonomi dan politik mengalami perbedaan yang signifikan.
Masyarakat daerah hilir memiliki budaya yang lebih terbuka terhadap budaya luar, hal ini dibuktikan dengan banyaknya pedagang yang berlalu-lalang, karena hal ini lah daerah hilir terkesan lebih maju dibandingkan dengan hulu yang lebih tertutup.
Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, alasan pertama, karena dalam sejarahnya wilayah hilir sudah menjadi pusat perekonomian dan politik bagi Raja-raja terdahulu yaitu dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang hingga Kolonial Belanda, oleh karena itu masyarakat hilir lebih mudah menerima budaya asing dan menjadi masyarakat modern.
Alasan kedua karena wilayah hilir merupakan kawasan bertemunya para pedagang asing dengan masyarakat setempat, para pedagang dari pedalaman biasanya akan bertemu dengan pedagang dari luar yang membawa budaya baru dan menyebarkannya ke seluruh masyarakat. Hal ini juga yang menyebabkan daerah hilir memiliki pola pikir yang jauh lebih modern dibandingkan masyarakat hulu
Selain itu, alasan mengapa daerah hulu lebih tradisional karena tidak akses untuk pergi ke kota, sebab untuk menyeberang ke sebelah Utara Kota Palembang, masyarakat harus menggunakan perahu untuk mendapatkan keperluan, untuk menyeberangi Sungai Musi membutuhkan uang yang tidak sedikit, sebab jaraknya yang lumayan jauh. Hal inilah yang mengakibatkan adanya ketimpangan yang sangat jelas antara hulu dan hilir.
Namun, setelah atas permintaan masyarakat, pada tahun 1961 Jembatan Ampera dibangun, masyarakat Ulu mulai mengadopsi budaya-budaya baru yang didapat dari hilir, Keunggulannya daerah hulu adalah masih banyak jejak keaslian orang-orang Palembang. Dengan tata kota yang masih tradisional dan biasanya orang-orang dengan gelar bangsawan banyak mendiami kawasan ini.
Pengaruh Jembatan Ampera terhadap kemajuan masyarakat Ulu tidak berlangsung instan.Bagi masyarakat hulu, dengan adanya Jembatan Ampera merupakan akses untuk menyeberang dan melihat secara langsung kondisi masyarakat hilir yang sudah maju. Sehingga secara berkala masyarakat hulu mulai bangkit dari ketertinggalan.
Salah satu buktinya, sudah banyak universitas yang terbuka di kawasan hulu, jalur LRT atau kereta cepat hingga pusat olahraga yang bertaraf internasional di jakabaring City.
Dari sini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Jembatan Ampera berperan sangat penting dalam perkembangan masyarakat hulu, sebelum adanya penghubung,hulu mengalami ketertinggalan dan setelah adanya Jembatan, masyarakat yang dulu sempat tersingkir kini mulai hidup berdampingan dan saling membutuhkan satu sama lain. Masyarakat hilir dengan modernisasinya dan Masyarakat hulu dengan karakter yang tradisional.
Itulah penjelasan singkat yang bisa infoSumbagsel muat terkait hulu dan hilir. Sampai Jumpa di informasi berikutnya. Semoga Bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama.
